Drama ‘Gang Kelinci’ Angkat Budaya Palembang

Para pemain Gang Kelinci dari Teater Mahameru Palembang.

KATANDA.ID, Palembang – Forum Teater Sekolah Sumsel (Fortass), bersama Teater Mahameru Palembang, bekerjasama dengan TVRI Sumsel menyelenggarakan shoting drama series “Gang Kelinci” bertempat di Palembang Square Palembang, Selasa (18/7/2023).

Hadir Penulis sekaligus Ketua Teater Mahameru Palembang Erwin Janim, dan Ketua Fortas Sumsel sekaligus Sutradara, Yosep Suterisno.

Pemain Drama Series Gang Kelinci adalah Rofi sebagai Mang Bidin, Husna sebagai Cek Beda, Rizki sebagai Rojali, Fania sebagai Maya Kriwil, Samuel sebagai Mat ulu, Hafiz sebagai Mat ilir, Efran Haryadi sebagai Wak Geboy, Zia sebagai Rogaya, Putri Khoirunnisa sebagai Siti Zaenab.

Penulis sekaligus Ketua Teater Mahameru Palembang Erwin Janim mengatakan, Teater Mahameru berdiri sejak tahun lalu. Untuk pertama penampilan kita adalah berjudul Gang Kelinci.

Rolenya adalah menceritakan kesemrawutan di Gang Kelinci yakni cikal bakal budaya kehidupan di Palembang yang diangkat.

“Itu ada konflik, ada intrik berbagai persoalan di gang kelinci. Gang kelinci padat penduduknya tapi mereka kompak. Disitulah karakter-karakter orang terjadi berbagai macam kehidupan baik dari kalangan menengah ke bawah,” ujarnya.

Erwin menuturkan, disini Teater Mahameru pemainnya anak-anak.

Karena inilah generasi penerus, kalau remaja sudah ada tapi kalau untuk anak-anak belum ada.

“Anak-anak ini cikal bakal penerus bangsa. Kita ingin mendidik mereka supaya berani. Apalagi dengan kondisi sekarang anak-anak bermain HP dari bangun tidur hingga tidur kembali. Jadi kita counter dengan kegiatan seni dan budaya,” katanya.

Sementara itu, Yosep Suterisno, SE, Ketua Fortas Sumsel yang juga sutradara lakon ini menyatakan, Drama Gang Kelinci ini menampilkan komedi situasi dengan nuansa lokalitas Palembang.

“Sesulit apapun dengan anak-anak ada nikmatnya, karena anak-anak tidak ada dusta. Kita membina anak-anak dan ini sangat menyenangkan,” ucapnya.

Menurutnya, dalam membina anak-anak tapi tergantung dari hati. “Jika hati kita bersih, maka mendidik anak-anak ini sangat menyenangkan,” tuturnya.

Dia berharap dengan kegiatan ini budaya Palembang bisa dikenal lebih luas. Karena budaya luar itu sudah sangat gila-gilaan.

“Jadi harus kita antisipasi dari awal, dengan membina anak-anak kita dengan memberikan banyak pertunjukan seperti ini,” katanya. (as)

Pos terkait