PLTU Terbesar di Sumatera Milik PT Huadian Bukit Asam Power Resmi Beroperasi

PLTU Sumsel 8 di Kabupaten Muara Enim resmi beroperasi. (FOTO : Humas PTBA)

KATANDA.ID, Jakarta – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas terbesar di Sumatera akhirnya beroperasi secara resmi terhitung sejak awal Oktober 2023.

PLTU yang bernama PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 berlokasi di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan (Sumsel).

Bacaan Lainnya

PLTU yang dibangun PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) yang merupakan kerja sama strategis antara PT Bukit Asam (PTBA) Tbk dengan China Huadian Hongkong Company Ltd (CHDHK) beroperasi dengan kapasitas 2 x 660 MW.

“PLTU Mulut Tambang Sumsel-8 telah mencapai status Commercial Operation Date  atau COD alias beroperasi secara komersial. Tanggal COD ditetapkan efektif mulai 7 Oktober 2023 oleh PT PLN,” kata Niko Chandra Corporate Secretary PT Bukit Asam Tbk dalam keterangan pers, Kamis (2/11).

Menurut Niko, PLTU MT Sumsel-8 yang merupakan bagian dari Program Pembangunan Pembangkit Listrik 35.000 MW. PLTU yang juga dikenal sebagai PLTU Tanjung Lalang groundbreaking dilakukan pada November 2015 oleh Menteri ESDM saat itu Sudirman Said.

Dengan beroperasinya PLTU Sumsel 8 menurut Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jisman Hutajulu, kelistrikan di Sumatera akan semakin andal.

“Kebutuhan listrik di Sumatera terus meningkat. Dengan demikian PLTU MT Sumsel 8 ini memiliki peran penting untuk memenuhi peningkatan kebutuhan tersebut”, katanya.

PLTU Sumsel 8 atau PLTU Tanjung Lalang di Kecamatan Tanjung Agung, Muara Enim resmi beroperasi sejak Oktober 2023. (FOTO : Humas PTBA)

Sementara itu Direktur Utama PTBA Arsal Ismail berharap agar PLTU Tanjung Lalang dapat membawa manfaat bagi ketahanan energi nasional dan kesejahteraan masyarakat.

“Kami berharap PLTU Tanjung Lalang dapat membantu PLN dalam memenuhi kebutuhan listrik di wilayah Sumatera, serta menciptakan multiplier effect untuk pertumbuhan ekonomi sehingga dapat berkontribusi bagi pembangunan”, ujarnya.

Untuk teknologi pada PLTU Tanjung Lalang menurut Arsal Ismail menggunakan teknologi super critical yang efisien dan ramah lingkungan. “Selain itu, PLTU Tanjung Lalang juga menerapkan teknologi Flue Gas Desulfurization ata FGD untuk menekan emisi gas buang. Teknologi FGD ini dapat mengurangi sulfur dioksida dari emisi gas buang pembangkit listrik berbahan bakar batu bara”, katanya.

Energi listrik dari PLTU MT Sumsel-8 menyuplai listrik ke PLN untuk kepentingan umum dalam Sistem Kelistrikan Sumatera dan membutuhkan batu bara hingga 5,4 juta ton per tahun. Nilai investasi proyek PLTU MT Sumsel-8 mencapai USD 1,68 miliar.

Bagi PTBA PLTU Sumsel bukan power plant pertama milik BUMN tambang tersebut. Sebelumnya, PTBA melalui PT Bukit Pembangkit Innovative telah mengoperasikan PLTU Banjarsari, di Kabupaten Lahat dengan kapasitas 2×110 MW.

PTBA sendiri telah memiliki dua PLTU untuk memenuhi kebutuhan listriknya sendiri yaitu PLTU Tanjung Enim di kapasitas 3×10 MW di Muara Enim dan PLTU Tarahan dengan kapasitas 2×8 MW  di Bandarlampung.

Di Kabupaten Muara Enim sendiri telah sejak lama beroperasi PLTU Bukit Asam milik PT PLN. PLTU ini sebelum beroperasi PLTU Sumsel 8 merupakan PLTU berkapasitas tersebesar di Sumsel. PLTU Bukit Asam telah beroperasi sejak 1986 atau selama 37 tahun, PLTU ini berkapasitas 4 x 65 MW berlokasi di Kecamatan Lawang Kidul atau tidak jauh dari lokasi tambang batu bara milik PTBA.

Kini PLTU Sumsel termasuk dalam daftar PLTU dengan kapasitas terbesar di Indonesia, diantaranya PLTU Paiton di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mengoperasikan dua PLTU dengan kapasitas 800MW. Kemudian PLTU Suralaya di Kecamatan Pulo Merak, Provinsi Banten memiliki total kapasitas energi 4.025MW memasok listrik wilayah Jawa-Bali.

Dua lainnya adalah PLTU Cirebon atau PLTU Jawa-1 di Desa Kanci, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat memiliki kapasitas 1 x 1.000 MW dan PLTU Batangdi Kabupaten Batang, Jawa Tengah memiliki 2 x 1.000 MW. (ril/mas)

Pos terkait