KATANDA, Jakarta – Seiring dengan pulihnya tingkat permintaan energi yang sebelumnya rendah akibat Covid-19 pada 2020 PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mampu mencatat atau laba bersih US$ 47,01 juta sepanjang 2021 walau pada 2020 perusahaan migas swasta nasional ini mencatat rugi bersih US$ 192,82 juta.
Kabar baik tersebut disampaikan melalui keterangan resmi Medco Energi, Jumat (10/6). Roberto Lorato CEO Medco Energi mengatakan, “Dengan senang saya laporkan kinerja keuangan yang kuat seiring dengan harga dan permintaan yang pulih pasca Covid-19.”
Menurutnya, kinerja perseroan memungkinkan kami untuk memberikan panduan dividen baru dan target utang yang lebih rendah. Ini seiring dengan harga dan permintaan yang pulih pasca Covid-19.
Selain itu menurut Lorato, kinerja MEDC membaik memungkinkan perusahaan memberikan panduan dividen baru dan target utang yang lebih rendah. Manajemen Medco akan membagikan dividen tahunan senilai Rp15 – Rp20 per saham.
Dalam keterangannya, manajemen Medco menjelaskan, laba bersih yang dicatatkan 2021 seiring dengan pulihnya tingkat permintaan energi yang sebelumnya rendah akibat Covid-19 pada 2020. Ada tiga segmen usaha Medco Energi yakni minyak dan gas, ketenagalistrikan dan tambang membukukan laba.
Pada 2021 harga jual rata-rata minyak senilai US$ 68 per barel atau 69 persen lebih tinggi dari tahun 2020 yang senilai US$ 40 per barel. Adapun harga penjualan rata-rata tertimbang gas adalah US$ 6,5 per mmbtu atau 26 persen lebih tinggi dari 2020 yang senilai US$ 5,2 per mmbtu.
Di sisi lain, laba bersih Medco juga dipengaruhi oleh dry hole dan penurunan nilai dari Blok Meksiko 10 & 12 total sebesar US$ 28 juta, penurunan nilai PT Api Metra Graha (AMG) sebesar US$ 15 juta. Penurunan tersebut diimbangi dengan penyesuaian nilai pada Sarulla sebesar US$ 47 juta dan PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) sebesar US$ 25 juta.
Sepanjang 2021, MEDC merealisasikan belanja modal sebesar US$ 114 juta atau meningkat di kuartal keempat seiring pulihnya permintaan. Di segmen migas, Medco merealisasikan belanja modal senilai US$ 83 juta terutama kemajuan beberapa proyek pengembangan Minyak & Gas di South Natuna Sea Block B PSC.
Dalam penjelasannya manajemen menyatakan, pengembangan proyek ini akan berlanjut hingga 2022 dengan gas pertama dari lapangan Hiu diharapkan pada kuartal II 2022, gas pertama di Proyek Belida Extension pada kuartal IV 2022 dan minyak pertama dari lapangan Forel dan gas di lapangan Bronang diharapkan pada kuartal IV 2023.
Untuk belanja modal ketenagalistrikan digunakan untuk menyelesaikan commissioning IPP Riau 275MW, pembangunan fasilitas Solar PV 26MWp di Sumbawa dan pengembangan geotermal tahap-1 30MW di Ijen, Jawa Timur.
Sementara itu Presiden Direktur Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro menyatakan senang melihat peningkatan kinerja setahun penuh perseroan yang jauh lebih baik serta dukungan dari para pemangku kepentingan atas perpanjangan PSC Senoro-Toili.
“Penyelesaian akuisisi ConocoPhillips Indonesia pada bulan Maret telah memperkuat posisi MedcoEnergi di Asia Tenggara dan mendukung strategi perubahan iklim kami,” kata nya. (ril/mas)









