Belajar Menulis Artikel dan Esai di Bulan Bahasa

Oleh : Maspril Aries

Pemimpin Redaksi tabloid Katanda & Katanda.id dan Penggiat Kaki Bukit Literasi

Bacaan Lainnya

Selama masa peringatan Bulan Bahasa 2022 sampai waktu puncaknya tanggal 28 Oktober 2022 di kampung saya tidak ada tercium “aroma” peringatan Bulan Bahasa. Semua berjalan biasa saja, tidak ada perayaan baca puisi, lomba mengarang dan lomba menulis. Masih terselamatkan, pada hari puncaknya ada upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda. Salah satu butir dari Sumpah Pemuda :  “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

Walau sepi agenda perayaan, namun ada undangan dari Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) tepatnya dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Muba untuk menjadi nara sumber atau tutor pada sebuah pelatihan menulis yang masih ada kaitannya dengan kebahasaan. Kesempatan itu coba dimanfaatkan dengan berbagai materi penulisan tentang “Menulis Artikel dan Esai.”

Pelatihan di Kabupaten Muba tersebut memang tidak berlangsung pada saat masa Bulan Bahasa yaitu 1 – 28 Oktober 2022, namun undangan mengisi kegiatan tersebut sudah disampaikan Dinas Kominfo Muba sejak awal Oktober jadi rencananya sudah ada pada saat Bulan Bahasa dengan rencana awal akan dilaksanakan pada 21 Oktober 2022 namun kemudian diundur ke tanggal 3 – 4 November.

Untuk apa Menulis?

Menurut Pramoedya Ananta Toer seorang pengarang besar Indonesia, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Pendapat itu bisa dilengkapi dengan pernyataan dari Prof Dr Mukti Ali, Menteri Agama RI 1971 – 1978, “Kalau Anda ingin terkenal menulislah! Atau berbuatlah sesuatu sehingga orang menulis tentang perbuatan Anda itu. Tidak ada cara yang lain selain itu.”

Atau “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. (Imam Al-Ghazali).

Apa alasan anda menulis? Belajar dari Emha Ainun Najib, “Alasan saya sederhana, dengan menulis saya belajar, berpikir, dan menemukan banyak hal. Menulis merupakan sarana pembelajaran untuk berpikir dan menemukan.”

Menulis artikel untuk media massa atau blog (bukan media sosial atau medsos seperti facebook atau whatssap) membutuhkan keterampilan atau keahlian tersendiri. Salah satu prasyaratnya adalah : Penulis harus memiliki wawasan yang luas.

Menurut Ronga Liu dalam “Academic expression: Development trends of scientific articles driven by technology” (2021) menyebutkan bahwa “Menulis adalah proses yang bertahap dan berkelanjutan. Itu tidak dapat diselesaikan sekali”

Solichin M Awi dalam “Tentang Menulis, Mengapa Menulis, dan Menulislah” menulis, “Untuk menulis, seseorang tidak harus berlabel penyair, cerpenis, novelis, tidak pula mutlak harus berpredikat seniman.”

Penulis (wartawan juga) adalah manusia pembelajar. Ia harus terus menggali ide-ide lalu menuliskannya. Membaca (bahan bacaan) adalah media pembelajaran tersebut.

Selain para penulis yang muncul sekarang ini, pada masa lalu tokoh-tokoh bangsa Indonesia adalah penulis. Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Pak Roem, Pak Natsir dan Buya Hamka adalah penulis. Tulisan-tulisan mereka selain tertuang dalam buku dan tersebar di media massa (koran dan majalah).

Jika mereka dulu bisa menulis di tengah miskinnya sumber informasi dan bahan bacaan atau referensi, kenapa sekarang saya, anda, dan kita tidak menulis. Padahal era sekarang adalah masa yang kaya informasi, informasi berlimpah. Berbagai paltform di dunia maya atau internet adalah menyediakan banyak informasi untuk menulis.

Rene Descartes mengatakan, “Aku berpikir, maka aku ada.” Dan, Albert Camus pernah berkata, “Aku memberontak, maka aku ada.” Mari kita menulis dan teriakan pada dunia. “Saya menulis, maka saya ada.”

Menulis, atau menulis artikel dan esai bukan hanya monopoli mereka yang berprofesi sebagai jurnalis atau wartawan saja. Profesi apapun boleh menulis artikel dan esai.

Menulis Artikel

Di lingkungan dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi ada penugasan bagi mahasiswa dan dosen untuk menulis artikel atau esai ilmiah. Di luar kampus untuk menulis artikel dan esai tidak harus menunggu penugasan.

Dalam lingkungan dunia jurnalistik, artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa (cetak dan online). Prosa sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi). Lengkapnya, “Prosa merupakan karangan bebas yang tidak terikat kepada banyaknya baris, banyaknya suku kata, serta rima maupun irama seperti pada puisi.”

Dalam prakteknya kerap ada kesalah-kaprahan mengenai istilah artikel di masyarakat. Slamet Soeseno dalam buku “Teknik Penulisan Ilmiah Populer” menceritakan, ada seorang pembaca tulisannya menyebut yang ditulisnya sebagai artikel. Padahal yang ditulisnya adalah feature. “Saya tidak pernah menulis artikel,” katanya.

Itu adalah kesalahpahaman yang ada di tengah masyarakat. Masyarakat yang membaca sebuah tulisan akan menyebut tulisan yang dibacanya sebagai artikel. Artikel itu adalah suatu bentuk tulisan istimewa yang jauh berbeda dengan feature. Pendapat masyarakat tersebut tidak salah. Di Amerika Serikat dan Eropa pada tahun 50-an masyarakatnya menyebut setiap tulisan di media cetak (koran dan majalah) adalah article atau artikel.

Artikel dapat diartikan sebagai karangan faktual (bukan fiksi) secara lengkap dengan panjang tertentu (300 kata sampai 1.000 kata) yang dibuat untuk dipublikasikan di media massa (online atau cetak) terbit di koran, majalah, buletin, jurnal blog dan sebagainya dengan tujuan menyampaikan gagasan dan fakta yang dapat meyakinkan, mendidik, dan menghibur.

Dalam definisi yang sederhana, artikel adalah salah satu jenis tulisan di media massa berisi analisis, kajian, paparan, ulasan, atau pendapat tentang suatu masalah atau peristiwa. (Romeltea.com)

 Dari luar Indonesia ada banyak pengertian tentang artikel. Seperti dalam The America Heritage Desk Dictionary menyebutkan, artikel adalah bagian tulisan nonfiksi yang berbentuk bebas bagian dari penerbitan seperti laporan esai.

Rillan E. Wolseley memberi definisi artikel sebagai karangan tertulis yang panjangnya tak tentu. Bertujuan menyampaikan gagasan dan fakta dengan maksud meyakinkan, mendidik dan menghibur. Kemudian dari Webster’s Collegiate Thesaurus memberi pengertian artikel adalah karangan, catatan, kritik, manifes, reportase, putusan, pelajaran, survei.

Di lingkungan jurnalistik, artikel termasuk karya jurnalistik selain berita dan feature. Diantara ketiganya berbeda. Artikel berisi pendapat atau dominan berisi pendapat penulis. Berita tulisan murni berisi fakta, data, informasi, tanpa penilaian ataupun opini wartawannya. Feature paduan antara berita dan opini dengan gaya bertutur (story telling) cenderung dengan menggunakan gaya bahasa sastra.

Bagaimana format atau struktur tulisan artikel? Sebuah artikel di dalamnya terdiri dari, nama penulis, pembukaan, pembahasan, dan penutup.

Selain itu juga dikenal jenis-jenis artikel. Dalam buku “Jurnalistik Praktis untuk Pemula” Romeltea (Asep Syamsul M Romli) membagi artikel dalam jenis artikel berdasarkan tujuan penulisannya:

Pertama, Artikel Deskriptif (to describe = menggambarkan) adalah tulisan yang isinya menggambarkan secara detail ataupun garis besar tentang suatu masalah, sehingga pembaca mengetahui secara utuh suatu masalah yang dikemukakan. Artikel deskriptif menjawab pertanyaan “apa”. Contoh judul :  ”Strategi Pembangunan Ekonomi Hijau di Muba.”

Kedua, Artikel Eksplanatif (to explain = menerangkan, menjelaskan) isinya menerangkan sejelas-jelasnya tentang suatu masalah, sehingga pembaca memahami betul masalah yang dikemukakan. Artikel eksplanatif menjawab pertanyaan “kenapa”. Contoh judul :  “Mengapa Terjadi Banjir di Muba?”

Ketiga, Artikel Prediktif (to predict = meramalkan) berisi ramalan, perkiraan atau dugaan apa yang kemungkinan terjadi pada masa datang, berkaitan dengan masalah yang dikemukakan. Artikel prediktif menjawab pertanyaan “apa yang bakal terjadi”. Contoh judul : “Tantangan Kabupaten Muba Pasca Pilkada 2024”

Keempat, Artikel Preskriptif (to prescribe = menentukan, menuntun) isinya mengandung ajakan, imbauan, atau “perintah” bagi pembaca agar melakukan sesuatu. Kata-kata “harus”, “seharusnya”, “hendaknya”, “seyogianya”, dan sema¬cam¬nya mendominasi tulisan jenis ini. Artikel preskriptif menjawab pertanyaan “apa yang harus dilakukan”. Contoh judul : “Mewaspadai Karhutla, Stop Membuka Lahan dengan Membakar”

Jenis-jenis artikel lainnya: adalah Artikel Narasi – artikel yang menceritakakan dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi artinya pengisahan suatu cerita atau kejadian; cerita atau deskripsi suatu kejadian atau peristiwa; kisahan.

Artikel Argumentasi – membuktikan kebenaran suatu pendapat, kesimpulan dengan fakta ataupun data sebagai alasan serta bukti. Artikel Persuasi – tulisan yang mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu.

Mulai Menulis

Merujuk pada model menulis artikel pada Tempo Institute, ada panduan praktis tentang 7 langkah menulis artikel, khususnya bagi pemula. 1. Menemukan ide; 2. Menetapkan angle; 3. Mengumpulkan bahan tulisan, 4. Membuat kerangka tulisan; 5. Menulis; 6. Editing; 7. Publikasi.

Struktur naskah sebuah artikel terdiri dari: 1. Judul; 2. Nama penulis (bisa juga ditulis diakhir artikel); 3. Intro, kalimat pembuka; 4. Bridge, penghubung antara intro dan bahasan; 5. Bahasan (biasanya per sub judul, 2-3 tiga sub judul); 6. Penutup/kesimpulan.

Menulis Esai

Menulis esai, menulis artikel atau menulis opini pada dasarnya adalah menuliskan ide, gagasan, topik atau pikiran. “Tulislah apa yang ada dalam pikiran, jangan memikirkan apa yang akan anda ditulis.”

Apa itu esai atau ada yang menulis essay? Pengertian yang sederhana mengutip dari S Anker dalam “Real Writing With Readings: Paragraphs and Essays for College, Work, and Everyday Life” (2010), esai dapat dimaknai sebagai bentuk tulisan lepas, yang lebih luas dari paragraf, yang diarahkan untuk mengembangkan ide mengenai sebuah topik.

Pengertian esai menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Ada juga yang memberi pengertian esai sebagai tulisan pendek yang biasanya berisi pandangan penulis tentang subjek tertentu.

Kata “essay” berasal dari bahasa Prancis, essai, artinya mencoba atau berusaha (a try or attempt).  Sebagai kata kerja (verb), essay artinya mencoba, berusaha. Dalam pengertian praktis, esai adalah artikel singkat tentang sebuah topik. Dalam konteks kekinian.

Ada juga pengertian esai akademis. Dalam konteks akademis, esai adalah komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subjek tertentu. Mengutip dari Romeltea, bentuk esai dalam konteks akademis itu dikenal sebagai “esai formal” yang sering dipergunakan para pelajar, mahasiswa, dan peneliti untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Esai formal bersifat “serius”, berbobot, logis, dan lebih panjang.

Di lingkungan jurnalistik, esai adalah tulisan yang berisi tinjauan atau bahasan suatu topik yang sama sekali mungkin tidak ada hubungan dengan berita atau peristiwa. Esai adalah tulisan berisi ekspresi opini penulisnya terhadap sebuah hal. Dalam konteks jurnalistik, esai mirip tajuk rencana. Tajuk (editorial) media massa sendiri merupakan salah satu jenis esai, yaitu esai tajuk –tulisan berisi pandangan atau pendapat redaksi media terhadap peristiwa atau masalah aktual.

Ada juga esai yang ditulis oleh pakar (ahli), misalnya pengamat atau cendekiawan, disebut kolom. Penulisnya disebut kolomnis. Pada era tahun 1980 – 1990-an di Indonesua banyak dikenal penulis kolom top yang tulisan dimuat di media cetak (koran, tabloid dan majalah). Ada Mahbub Junaedi, Goenawan Mohamad, Umar Kayam, YB Mangunwijaya, MAW Brower, Syubah Asa, Dawam Rahardjo, Abdurrahman Wahid, Arief Budiman, Mochtar Pabottingi, Rosihan Anwar, dan Emha Ainun Nadjib. Faisal Baraas (menulis kolom kedokteran-psikologi), Bondan Winarno (manajemen-bisnis), Sanento Juliman (seni-budaya), Ahmad Tohari (agama), serta Jalaluddin Rakhmat (media dan agama).

Bukan kebetulan jika sebagian besar penulis esai-esai yang menarik itu adalah juga sastrawan—penyair dan cerpenis/novelis. Dari tahun 1980-an sampai kini seorang penulis kolom yang masih produktif menulis adalah Goenawan Mohamad yang baru menerima penghargaan dari Japan Foundation pada Rabu 19 Oktober 2022 di Tokyo. Tulisan kolom  Goenawan Mohamad bisa dibaca pada majalah Tempo dalam rubrik “Catatan Pinggir” sering disebut Caping. Tulisan-tulisan Goenawan Mohamad tersebut juga telah dibukukan dengan judul “Catatang Pinggir.”

Pada perguruan tinggi di luar negeri, menulis esai adalah salah satu bentuk tugas akademik dari mahasiswa. Mahasiswa mendapat tugas menulis esai dari pra dosen karena esai dianggap memiliki peranan penting dalam pendidikan di banyak negara untuk mendorong pengembangan diri mahasiswa. Di Indonesia, mahasiswa juga sering mendapat tugas membuat makalah.

Seorang mahasiswa yang menulis esai dapat menuangkan apa yang dipikirkannya disertai alasannya atau argumentasinya, yang ditulis dalam kerangka penyampaikan pemikiran dengan memperhatikan teknik menulis sesuai dengan skema menulis yang baku.

Karya tulis esai adalah bentuk tulisan yang mendorong penulisnya untuk menguji ide yang dimiliki mengenai sebuah topik. Sebelum menulis esai, bacalah dengan cermat berbagai literatur pendukung sesuai dengan tema atau topik esai yang akan ditulis. Melakukan analisis, perbandingan, dan menulis secara padat, jelas, dan tuangkan dalam sebuah tulisan secara seksama.

Menurut wartawan senior Farid Gaban, dalam dunia sastra, esai dimasukkan dalam kategori non-fiksi, untuk membedakannya dengan puisi, cerpen, novel dan drama yang dikategorikan sebagai fiksi.

Dalam penulisannya, struktur naskah atau sistematika penulisan esai dibagi menjadi empat bagian. Pertama, Pendahuluan (berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi). Kedua, Subjek (bahasan dan pengantar tentang subjek). Ketiga, Tubuh atau isi/pembahasan (menyajikan seluruh informasi tentang subjek). Keempat, Penutup berupa kesimpulan (konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subjek).

Jenis-jenis esai, umumnya sama seperti jenis artikel, ada tiga jenis esai. 1. Esai Naratif (Narrative Essays), yaitu tulisan yang yang menceritakan sebuah kisah atau cerita, misalnya tentang pengalaman atau peristiwa masa lalu, kejadian atau peristiwa yang baru saja terjadi/sedang terjadi, bisa juga tentang sesuatu yang terjadi kepada orang lain. Esai naratif menggambarkan suatu ide dengan cara bertutur. Kejadian yang diceritakan biasanya disajikan sesuai urutan waktu (kronologis).

2. Esai Deskriptif (Descriptive Essays), menggambarkan orang, tempat, atau sesuatu sejelas dan sedetil mungkin sehingga pembaca dengan mudah membentuk “gambar mental” (mental picture) tentang apa yang ditulis. Esai deskriptif biasanya bertujuan menciptakan kesan tentang seseorang, tempat, atau benda.

3. Esai Persuasif (Persuasive Essay), esai jenis ini meyakinkan pembaca untuk menyetujui sudut pandang penulis tentang sesuatu atau menerima rekomendasi penulisnya untuk melakukan sesuatu. Esai jenis ini berisi ajakan atau seruan. Esai ini berusaha mengubah perilaku pembaca atau memotivasi pembaca untuk ikut serta dalam suatu aksi/tindakan (call for action). Esai ini dapat menyatakan suatu emosi atau tampak emosional.

Juga harus diingat bahwa, dari definisi yang ada, umumnya esai memiliki ciri sebagai tulisan berbentuk prosa, lebih subyektif, lebih personal, umumnya tak terlalu mendalam dan lingkup lebih sempit, esai kerap tidak utuh atau tidak habis ditulis, esai memiliki nada atau gaya pribadi.

Saat menulis esai secara garis besar langkah-langkahnya meliputi : Pertama, memilih ide. Kedua, memunculkan tesis atau pendapat yang argumentatif berdasarkan fakta yang dijumpai. Ketiga, membuat atau menulis paragraf pertama dengan pilihan kalimat yang memukau. Keempat, mengembangkan isi secara runtut. Kelima membuat paragraf penutup.

Menulis itu ibarat orang belajar berenang atau belajar naik sepeda roda dua. Untuk belajar berenang dan naik sepeda tidak teori dan teknik khusus yang bisa menjadikan seseorang bisa berenang dan jago naik sepeda. Walapun sudah membaca buku-buku atau mendengar instruksi pelatih renang tentang teknik berenang tidak akan bisa menjadi perenang jika tidak nyebur langsung di kolam renang dan berlatih. Agar bisa, jawabnya, latihan, latihan dan menajdikan sebagai “kebiasaan.”

Demikian pula halnya dengan menulis. Ibarat belajar berenang, latihan dan terus latihan. Mulailah sejak sekarang menulis. Ingat pesan penulis novel J.K. Rowling, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.”

Selamat menulis! ■

Pos terkait