Apriyadi Bedah Rumah di Muba bukan “Reality Show”

Pj Bupati Muba Apriyadi meninjau langsung bedah rumah di Desa Epil. (FOTO : Dinkominfo)

Bedah Rumah Helmy Yahya

Yang namanya program atau agenda bedah rumah hampir merata ada di seluruh daerah di Indonesia dan menjadi program pemerintah setempat. Namun program bedah rumah menjadi populer adalah berkat Helmy Yahya wong kito yang sukses dengan banyak program reality show di layar kaca atau televisi. Program tayangan Bedah Rumah sempat tampil di RCTI, Global TV dan MNC TV.

Bacaan Lainnya

Entah siapa yang pertama kali memperkenalkan atau menggunakan kata “bedah rumah”? Jika merujuk pada Wikipedia, “Bedah Rumah (saat ini bernama Bedah Rumah Lagi) adalah sebuah acara realitas yang diprakarsai oleh Helmy Yahya dan diproduksi oleh Dreamlight World Media dan Triwarsana (sekarang menjadi Asia Media Productions). Dalam acara ini, pembawa acara akan mencari penerima berkah atau sasaran utama yang memiliki rumah tinggalnya yang kurang layak.”

Sebagai program reality show yang ditayangan oleh stasiun televisi di layar kaca, menurut Edward Mursid Simanjuntak dalam penelitiannya “Politik Representasi Kemiskinan dalam Tayangan Reality Show  Bedah Rumah Untuk Indonesia GTV” (2022), reality show Bedah Rumah Untuk Indonesia GTV. merupakan sebuah  acara yang menampilkan sebuah keluarga yang kurang mampu, bahkan kekurangan dalam membiayai kehidupannya, dimana perjuangan mereka akan dianggap berkesan dan menginspirasi para penonton.

Edward Mursid Simanjuntak mengupas bahwa tayangan Bedah rumah untuk Indonesia  merupakan hasil sebuah konsep representasi kemiskinan bekerja. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya  representasi kemiskinan dan konstruksi kemiskinan yang dijadikan komoditas oleh tayangan Bedah Rumah Untuk Indonesia GTV. Dengan cara menampilkan kondisi kemiskinan yang begitu menyedihkan secara berlebihan demi menguras rasa iba penonton, serta dirancang sedemikian rupa supaya terlihat natural.

Menurut penelitiannya oleh Nosakros Arya dan kawan-kawan berjudul “Komodifikasi Kemiskinan Dalam Televisi Indonesia:  Studi Komparatif antara Program “Jika Aku Menjadi” Di Trans TV dengan Program “Bedah Rumah” di RCTI” (2013), meskipun demikian, reality show yang menjadikan kemiskinan sebagai objek utama dapat menempati rating yang cukup tinggi.

Mengutip Saiful Totona dalam “Miskin Itu Menjual : Representasi Kemiskinan Sebagai Komodifikasi Tontonan” (2012) : Berdasarkan data yang dirilis oleh Communications Executive AGB Nielsen Media Research, bahwa pada tahun 2009 ada dua program acara dalam hal ini reality show yang pernah menempati rating tertinggi yakni, “Bedah Rumah” dengan rating 4,57 persen dan “Jika Aku Menjadi” dengan rating 4,73 persen (Totona, 2010). Berangkat dari data-data itulah sehingga para produsen media menjadikan program reality show kemiskinan sebagai sebuah program unggulan yang dapat meraup iklan sebanyak-banyaknya.

Bedah rumah di Muba tentu bukan tontonan apa lagi pencitraan, melainkan upaya serius dari Pj Bupati Apriyadi untuk mengentaskan kemiskinan di daerah yang dikenal sebagai penghasil migas tersebut. Bantuan bedah rumah dari Program BSPS di Kecamatan Lais tersebut bukan reality show, melainkan program pembangunan memmbangun kembali rumah yang tidak layak huni menjadi layak huni. ●

 

 

 

Pos terkait