Perbincangan Masa Depan Literasi Bersama Benny Arnas di Obelia

Benny Arnas (tengah) di Kede Buku Obelia, Medan. (FOTO : Dok. Benny Arnas)

KATANDA.ID, Medan – Akhir September 2023, penulis dan novelis Benny Arnas terbang dari Lubuklinggau di Sumatera Selatan (Sumsel) ke Medan di Sumatera Utara (Sumut).

Sejumlah agenda dilakoni novelis asal Sumsel selama berada di Medan. Diantaranya menjadi pembicara pada Festival Literasi yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara berlangsung 25 – 28 September 2023. Satu hari kemudian 29 September Benny Arnas berbicaa di Kede Buku Obelia berlamat di Jalan Amaliun No.152 Medan.

Bacaan Lainnya

Menurut Benny, Obelia adalah penerbit (di) Medan yang konsisten menerbitkan buku-buku penulis Sumatera Utara. Di Kede Buku ini ia hadir dan berbicara dalam “Cakap Asyik, gelar wicara bersama Hasan al Banna”.

Acara berlangsung di halaman Kede Obelia (begitu markas penerbit cum penjualan buku Obelia dinamai) dipadati peserta dari berbagai latar belakang, dari pencinta buku, seniman, hingga, tentu saja, pembaca.

Benny Arnas menjadi pembicara pada Festival Literasi oleh Balai Bahasa Sumatera Utara di Medan. (FOTO : Dok. Benny Arnas)

Benny Arnas pun bercerita tentang Benny Institute, komunitas yang ia dirikan pada 2012, mulanya tidak menjadikan penerbitan buku sebagai sumber kas. “Namun, seiring waktu, saya menemukan, banyak sekali naskah dengan materi bagus yang rasanya mustahil dilirik (penerbit) Mayor”, katanya. “Sastra dan kebudayaan lokal adalah salah duanya”.

Sampai hari ini Benny Institute rutin menerbitkan buku-buku dengan materi—dan penulis—lokal (di Sumsel mungkin satu-satunya). “Dahsyatnya, kami tak pernah merugi. Buku-buku terbitan kami. Kalaupun tidak laris, tidak membuat kami nombok. Selalu ada pembaca lokal, khususnya mahasiswa, yang membutuhkan buku cerita rakyat, misalnya, untuk penelitian mereka” kata Benny.

Sementara itu Alha Muhsi co-founder Obelia, bercerita bagaimana susahnya mencari materi—dan penulis—lokal. “Kami mau saja Tapi materinya tidak ada”.

Diskusi pun bergulir ke berbagai topik. Dari etos menulis Benny Arnas, Story by 5 alias menulis yang ia rilis, hingga cerita tentang lingkungan kreatif—termasuk film—di Medan dan Lubuklinggau.

Menurut Benny Arnas, “Public Policy kerap jadi tembok bagi sumber daya dan inovasi yang sudah kita upayakan”. Benny mengajak pegiat literasi dan seniman untuk tetap mencoba membangun komunikasi dengan pemerintah daerah setempat. “Coba dulu. Cocok, lanjut. Nggak, tinggalin”, ujarnya.

Bagi Benny Arnas, tidak selamanya acara kesenian, termasuk dunia buku dan penerbitannya, menghasilkan luaran saat itu juga. Termasuk acara di Obelia. Silaturahim dan kerja kebaikan kerap sekali punya cara kerjanya sendiri. Kalau ada yang bertanya, di mana kejutan gemar berkeliaran: tempat ilmu pengetahuan ditulis dan disiarkan adalah salah satunya.

Pada Festival Literasi Sumatera Utara, 25–28 September 2023 yang ditaja Balai Bahasa Sumut, Benny Arnas tampil sebagai nara sumber selama dua kali. Pertama menyampaikan pidato literasi bertajuk “Cerita Silat, Scenius, & Probono”.

Pada hari kedua, Benny memberikan materi tentang kekuatan keringkasan (the power of shorts) pada hari ketiga dalam suasana yang lebih kasual. “Senangnya, saya dapat bonus di hari terakhir, berbagi seputar kegiatan perbukuan yang kami lakoni di Benny Institute di Kede Buku Obelia. Seru, hangat, dan pecah. Terima kasih, Medan. Selalu gembira bisa kembali ke sini,” katanya. (masp)

 

Pos terkait