Iwan mengusulkan diskusi bisa dilaksanakan dua minggu sekali dengan menghadirkan para narasumber yang diantaranya juga akan ada dari pihak asosiasi maupun perusahaan. “Untuk setiap diskusi yang digelar diusung tema berbeda. Seperti membahas ekonomi, sosial, soal lingkungan hingga tentang harga Sembako yang saat ini sedang naik”, ujarnya.
Syarif Abdullah memberi masukan agar tema diskusi tentunya akan disiapkan terlebih dahulu sejak jauh hari sebelum dimulainya diskusi.
“Jadi jangan sampai tema diskusi ditetapkan mendekati hari pelaksanaan. Kemudian untuk narasumber yang tidak bisa hadir karena sibuk bisa mengikuti diskusi melalui video call ataupun Zoom Meeting”, ujarnya.
Eko Prasetyo merespon tentang tema diskusi harga sembako. Menurutnya, sembako yang kini harganya sedang naik perlu mendapat perhatian semua pihak terkait. “Naiknya harga Sembako ini sangat menarik untuk didiskusikan, karena Sumsel ini kan termasuk lumbung pangan tapi mengapa harga Sembako bisa mahal?” ungkap Eko.
Maspril Aries menyambut baik terbentuknya wadah TSC, dengan harapan bisa melahirkan sumbangan pemikiran bagi stakeholder terkait. “Yang penting ada silaturahmi di TSC”, katanya.
Menurut wartawan yang juga penggiat literasi pada Kaki Bukit Literasi, ke depan banyak isu penting yang terkait dengan hajat rakyat Sumsel. “Ada isu atau tema tentang Pilkada, ada Pilgub dan ada pemilihan bupati dan wali kota se Sumsel.
“Tema tentang Pilkada untuk mendorong rakyat Sumsel menjadi pemilih cerdas dalam memilih kepala daerahnya dan para calon kepala daerah harus segera mendeklarasikan dirinya, jangan malu-malu dengan seribu alasan. Deklarasi segera agar kami rakyat Sumsel bisa menilai layak tidak dia memimpin daerah ini. Tema seperti ini layak didiskusikan karena di dalamnya ada diskursus atau pendidikan politik”, ujar Maspril Aries yang juga Pemimpin Redaksi www.katanda.id. (ril/mas)









