KATANDA.ID, Palembang – Sejumlah warga Sumsel, hari ini Kamis 19 Maret 2026, telah menunaikan salat id idul fitri yang digelar di halaman Masjid Al-Mustanir, jalan Gubernur H. Bastari, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, tepatnya di depan Sekolah Al Fahd, seberang Rumah Sakit Hermina OPI Jakabaring, Kamis (19/3/2026).
Bertindak sebagai imam, Ustadz Syahrul Musta’in menjelaskan bahwa kelompoknya menggunakan metode rukyat global dalam menentukan awal bulan Syawal.
“Karena kami menggunakan rukyat global yang merujuk pada tiga mazhab, yaitu Imam Maliki, Hambali, dan Hanafi. Kesimpulannya, apabila hilal terlihat di suatu negeri, maka negeri lain mengikutinya,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan informasi yang mereka terima, hilal telah terlihat di sejumlah wilayah, termasuk di beberapa kota di Afghanistan dan juga di Turki.
“Karena itu, kami menetapkan Idulfitri lebih awal dengan metode rukyat global,” katanya.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan perbedaan metode yang digunakan oleh kelompok lain. Menurutnya, Muhammadiyah menggunakan metode hisab, sementara sebagian umat Islam di Indonesia mengikuti rukyat lokal sesuai dengan mazhab Imam Syafi’i.
“Yang merayakan besok tetap sah karena mengikuti rukyat lokal. Sementara kami mengikuti rukyat global yang juga digunakan di sekitar 60 negara,” jelasnya.
Selain itu, ia menyebut kelompoknya juga telah lebih dahulu memulai ibadah puasa Ramadan, yakni pada 18 Februari 2026, mengikuti negara-negara lain yang telah lebih dulu menetapkannya.
Fenomena perbedaan penetapan hari besar keagamaan seperti Idulfitri bukanlah hal baru di Indonesia, mengingat adanya perbedaan metode dalam menentukan awal bulan hijriah, baik melalui hisab maupun rukyat. (*)










