Harga Karet Kembali Anjlok Meski Nilai Tukar Rupiah Menguat

KATANDA.ID, Palembang – Meskipun nilai tukar Rupiah terhadap Dolllar Amerikan menguat, tapi tidak memberikan pengatuh untuk mendongkrak harga karet ditingkat petani yang kembali anjlok.

Harga karet hari ini diharga Rp 19.917 per kg atau turun tipis Rp 96 per kg dibanding harga akhir pekan lalu, Jumat (16/9/2022) lalu yang ditawarkan dihargaRp 20.013 per kg.

Turunnya harga karet ini karena menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar naik hari ini yang dibandrol Rp 14.864 per dollar naik tipis dibanding nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Jumat (16/9/2022) yang diharga Rp 14.825 per dollar Amerika.

Meksi nilai tukar rupiah menguat hari ini namun harga karet hari ini anjlok sehingga harganya secara keseluruhan juga turun dibanding akhir pekan lalu.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Sumsel, Achmad Mirza, mengatakan, Harga karet hari ini diharga 1,34 dollar per kg, atau lebih rendah dibanding harga akhir pekan lalu yang diharga Rp 1,35 dollar per kg.

“Indikasi harga karet hari ini turun Rp 96 per kg dibandingkan indikasi karet Jumat (16/9/2022) untuk KKK 100 persen,” kata Achmad Mirza, Senin (19/9/2022).

Berdasarkan data Singapore Commodity yang diolah Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel bersama Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, harga karet KKK 100 persen hari ini 19 September dibandrol Rp 19.917 dibanding harga kemarin, Jumat (16/9/2022) yang dibandrol Rp 14.825 per kg.

Naiknya harga KKK 100 persen juga diikuti naiknya harga karet kualitas lainnya mulai dari 40-90 persen.

Harga KKK 90 persen dibandrol Rp 17.925 per kg, KKK 80 persen dibandrol harga Rp 15.933 per kg.

Mirza menambahkan, secara keseluruhan, ada enam faktor yang mempengaruhi harga karet di pasar internasional. Yaitu, nilai tukar mata uang regional terhadap dolar AS. Apabila penguatan kurs dolar AS menjatuhkan nilai tukar mata uang lain, maka akan berpengaruh terhadap harga karet.

Lalu, penggunaan karet sintetis sebagai competitor karet alam, suplay dan demand karet di pasar karet internasional, perkembangan industri otomotif dan ban. Kemudian faktor cuaca dan hama penyakit. (lya)

Pos terkait