Herman Batin Mangku dari Karikatur Bermuara ke Kanvas

Jurnalis dan Pelukis Herman Batin Mangku di depan lukisannya. (FOTO : Herman & Bambang Sby)

KATANDA.ID, Bandarlampung – Herman Batin Mangku jurnalis senior dari Lampung memberi kabar melalui pesan Whatsapp, hari ini, Sabtu, 17 September 2022 ikut pameran lukisan di ruang pamer Dewan Kesenian Lampung (DKL), PKOR Wayhalim yang berlangsung 17 Septenber – 1 Oktober 2022.

Herman Batin Mangku mengaku pameran ini adalah yang pertama kali baginya sejak bergelut dengan kuas, kanvas dan cat. Selama ini Herman Batin Mangku atau Hermansyah nama yang disandanganya saat kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) lebih dikenal sebagai seorang jurnalis atau wartawan yang memulai karirnya di Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra.

Bacaan Lainnya

Di Teknokra Hermansyah awalnya adalah seorang karikatur yang melahirkan tokoh imajinatif bernama “Kiay dan Adien.” Selama menjadi mahasiswa karikatur “Kiay dan Adien” selalu hadir di setiap edisi SKM Teknokra yang pada tahun 1990-an pernah menjadi pers mahasiswa dengan oplah terbit terbanyak di Indonesia dan terbesar pada masa nya, terbit dengan format tabloid setiap edisi Teknokra terbit dengan oplah 10.000 eksemplar.

Lalu Hermansyah diminta bergabung ke Harian Lampung Post yang saat itu menjadi satu-satunya koran harian yang terbit di Lampung. Di Lampung Post Hermansyah juga menjadi karikatur dengan tokoh imajinatif “Pak De dan Pak Ho.”

Kali ini Hermansyah tampil bersama perupa Lampung pada pameran bertajuk “Gelora 70.” Dari flyer yang tersebar di jagat digital, dari banyak deretan nama pelukis yang karyanya dipamerkan, hanya ada empat nama pelukis yang saya kenal, selain Hermansyah ada Anshori Djausal, Bambang Suroboyo dan Dana E Rachmat.

Diantara lukisan yang dipamerkan, Hermansyah memajang lukisan penari kontemporer Lampung. “Lukisan saya ini terinspirasi foto mantan fotografer Lampung Post Rohimat Hidayat yang dibidik pada pembukaan sebuah acara Pemprov Lampung,” katanya.

Lukisan yang terinspirasi dari sebuah foto jurnalistik, bagi Hermansyah lukisan dan jurnalistik adalah perpaduan atau perjalanan seiring sejalan seperti lirik lagu Tulus, “Aku sang sepatu kanan, Kamu sang sepatu kiri.”

“Lukisan dan jurnalistik bukan sesuatu yang saling bertolak belakang. Lukisan dan jurnalistik itu sebetulnya sama, sama-sama bagaimana mengolah rasa. Hanya bedanya, lukisan dalam bentuk gambar sedangkan jurnalistik dalam bentuk teks,” kata alumnus Fakultas Pertanian Unila.

Bagi pemegang gelar akademik insinyur (Ir.) ini, “Pelukis dan jurnalis sama-sama bagaimana menuangkan karya lukisan enak dan indah dilihat, dan tulisan enak dibaca serta mencerdaskan. Pada keduanya, ada estetika dalam keharmonisan dalam setiap karya, apa karya lukisan atau karya tulis.”

Perjalanan Herman Batin Mangku berkesenian (dalam melukis) bermula dari seorang karikaturis, ada yang menyebut kartunis. Akan buang-buang energi saja kalau kita memperdebatkan dua sebutan atau istilah itu. Pameran lukisan perdana kali ini adalah sebuah “lukisan” perjalanan dari karikatur yang bermuara di atas kanvas.

Seorang akademisi komunikasi Alex Sobur (2002) menyebutkan, karikatur adalah bagian dari opini media yang dituang ke dalam bentuk gambar-gambar khusus. Semula karikatur merupakan selingan atau ilustrasi belaka. Namun pada perkembangannya, karikatur dijadikan sarana untuk menyampaikan kritik yang sehat.

Jika mau sejenak berteori, jadi karikatur dapat dikatakan sebagai tanggapan atau opini secara subjektif terhadap suatu peristiwa atau tokoh, pemikiran atau pesan tertentu. Mengutip Panuti & Zoest (2003), gambar dalam karikatur adalah merupakan symbolic speech (komunikasi tidak langsung) artinya bahwa penyampaian pesan yang terdapat dalam gambar karikatur tidak dilakukan secara langsung tetapi dengan menggunakan bahasa simbol.

Dengan kata lain makna yang terkandung dalam gambar karikatur adalah makna yang terselubung. Simbol-simbol pada gambar karikatur tersebut merupakan simbol yang disertai maksud (signal) yang dinamakan dengan sadar oleh orang yang mengirimnya (si pengirim) dan mereka yang menerimanya (si penerima).

Sejak bermula sebagai seorang karikaturis di media massa, karya Hermansyah banyak menggambarkan humanisme menjadi titik tolak karyanya. Juga dilengkapi dengan ekspresi emosi, ada juga yang disertai dengan eksperimen. Ini bisa dilihat dari dokumentasi karyanya di Teknokra dan Lampung Post.

Kini tentang lukisannya. Saya tak sempat melihat langsung, hanya melihat dari visual foto yang dikirim. Tapi pengunjung yang datang melihat bisa memberi apresiasi dan menilai dari lukisan-lukisan yang dipajangkan termasuk lukisan Hermansyah. Umumnya, penilaian terhadap lukisan itu biasanya ada dua pilihan, bagus atau tidak bagus, indah atau tidak indah.

Urusan perdebatan indah atau tidak indah sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. Menurut Plato keindahan adalah ide kebaikan, yang memunculkan watak yang indah dan hukum yang indah. Sang murid Aristoteles menyebutkan, keindahan selain baik juga menyenangkan. Jadi itu bukan suatu yang harus diperdebatkan untuk membuang energi.

Dari pada berdebat, saat datang ke pameran lukisan usahakan isi kepala tidak kosong. Belajarlah untuk memahami lukisan walau saat berada dalam ruang pameran tidak ada ujian mata pelajaran seni lukis. Seni lukis dapat dikatakan sebagai suatu ungkapan pengalaman estetik seseorang yang dituangkan dalam bidang dua dimensi atau dua matra, dengan menggunakan medium rupa, yaitu garis, warna, tekstur, shape, dan sebagainya.

Seni lukis juga sering disebut seni gambar. Kalau di dalam ruang kelas guru kesenian akan menyapa, “Ayo kita mulai pelajaran menggambar!” Guru bukan mengajak siswa untuk melukis. Apakah juga harus berdebat ini menggambar atau melukis?

Menggambar itu sering diartikan sebagai karya ilustrasi, yaitu untuk menerangkan atau memberi keterangan terhadap orang lain atau lebih tepat sebagai gambar keterangan. Menggambar juga merupakan medium untuk mencapai simbol figuratif dalam pencapaian bentuk seni lukis.

Di dunia ini ada beberapa aliran seni lukis yang menjadi dasar perkembangan seni lukis yaitu surrealisme, kubisme dan romantisme. Juga berkembang di dunia seni lukis aliran ekspresionisme, impresionisme, fauvisme, neo-impresionisme, realisme, naturalisme dan de stijl.

Dari pada semakin njelimet, lebih baik diakhiri saja tulisan ini. Selamat untuk Herman Batin Mangku atas pameran perdana lukisannya di depan umum. (maspril aries)

 

Pos terkait