Conie Sema Wartawan, Sastrawan dan Tokoh Teater itu Telah Pergi

Conie Sema (kiri) bersama anggota Teater Potlot. (FOTO-FOTO : Safira Yasmin)

KATANDA.ID – Kabar duka bisa datang kapan saja, datang tiba-tiba seperti kabar berpulangnya seorang sahabat Conie Sema pada Kamis, 8 September 2022 di RS Hermina Palembang. Conie Sema dikenal sebagai wartawan senior, sastrawan, seniman dan tokoh teater yang bermukim di Palembang dan Bandarlampung.

Mengenal nama Conie Sema awal tahun 1990-an saat Orde Baru masih sangat kuat berkuasa. Lupa tahun yang tepat antara tahun 1991 atau 1992 atau 1993, saat itu sebuah komunitas teater asal Palembang bernama Teater Potlot tengah pementasan di panggung teater terbuka GOR Saburai di Lapangan Enggal Bandarlampung.

Bacaan Lainnya

Kabar terakhir GOR yang sangat fenomenal dan GOR pertama yang dibangun di Lampung tersebut akan dibongkar dan di lokasi tersebut akan dibangun masjid raya.

Sebagai wartawan yang bergabung dengan Harian Lampung Post bersama beberapa wartawan lainnya ikut menyaksikan pementasan aktor-aktor dari Teater Potlot. Waktu itu lupa lakon apa yang mereka pentaskan? Saat itulah nama Conie Sema yang menjadi pengatur lakon atau penulis naskah mulai dikenal.

Coni Sema (kanan) bersama Toton Dai Permana (tengah) seniman yang pernah menjabat Kepala Taman Budaya Graha Sriwijaya Palembang.

Dari kenangan yang sudah lama itu maka lupa dengan judul lakon ditampilkan Teater Potlot malam itu karena memang tidak bertugas untuk meliput melainkan hanya menonton. Apakah naskah yang dipentaskan berjudul “Sebungkus Deterjen Hari Ini.” (Untuk kepastiannya butuh konfirmasi Taufik Wijaya)? Pementasan pun usai, tapi banyak penonton saling bertanya, tadi pementasan itu ceritanya tentang apa?

Di dalam blognya Conie Sema menulis tentang pementasan “Sebungkus Deterjen Hari Ini” yang dipentaskan tahun 1993 tersebut adalah pementasan yang beranjak dari keinginan menggambarkan atau mensimulasikan realitas yang terjadi masa Orde Baru. Simulasi realitas rezim yang berkuasa saat itu, membentuk persepsi yang cenderung palsu, namun dibuat seolah mewakili kenyataan.

“Bahasa dan alat ucap pun, menjadi presentasi realitas melalui pencitraan (simulacrum) yang dikemas sedemikian rupa oleh media massa. Membangun kekuasaan rezim bahasa. Menjadi hiperreal antar bahasa rakyat dan bahasa kekuasaan. Dan itu menjadi siasat supaya masyarakat mengalami kesulitan dalam memahami relevansi antara bentuk dan isi, kebingungan menyerap antara yang sejati dan semu,” tulisnya.

“Ini deterjen. Mereknya, Dino. Ini Baskom plastik. Ini pakaian kotor. Saya akan mencuci pakaian ini. Ini sepatu. Ini radio transistor, mereknya Nasional. Ini air. Air saya masukan ke baskom. Ini deterjen, saya taburkan ke air di dalam baskom ini. Pakaian kotor, sepatu, dan radio ini, saya masukan ke baskom. Saya mulai mencuci!”  Salah satu kutipan dialog dari pementasan tersebut.

Hari Kamis, 8 September 2022, pukul 17.20 WIB sahabat yang dikenal pertama kali di GOR Saburai tersebut telah pergi selama-selamanya ke haribaan Illahi. Conie Sema pergi meninggalkan istri Bisri Merduani dan tiga orang anaknya Sema Milenia, Sema Giga Ramadhan, dan Sema Epik Revolka

Terakhir pertemuan dengannya berlangsung sebelum Covid-19 melanda Indonesia. Dua kali kami bertemu pada tahun 2019 dan itu menjadi pertemuan  terakhir.

Pertama pada saat Idul Fitri 2019, Conie bersama Bisri dan anak-anak bersilaturahmi ke rumah kami. Kedua pertemuaan saat kami datang menyaksikan pementasan Teater Potlot di Taman Budaya Graha Sriwijaya Palembang pada 5 Desember 2019 dengan Judul “Talang Tuo Glosarium Project” yang disutradarainya.

Pementasan Teater Potlot di Taman Budaya Graha Sriwijaya Palembang pada 5 Desember 2019 dengan Judul “Talang Tuo Glosarium Project”.

Dalam buku “Antologi Biografi Pengarang Sumatera Selatan” yang diterbitkan Balai Bahasa Sumatera Selatan (Sumsel) tertulis, Conie Sema lahir di Palembang tanggal 24 April 1965. Ibunya bernama Alijah dan ayahnya bernama Sema.

Conie yang pernah menjadi koresponden televisi swasta RCTI untuk wilayah Sumsel dan Lampung menjalani pendidikan dasar di SD Negeri 38 Palembang, ke SMP Bina Warga Palembang, STM Negeri 2 Palembang. Conie menamatkan pendidikan tingginya di STTN Jurusan Teknik Industri di Bandar Lampung dan pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Teknik Sipil Universitas Tridinanti, Palembang.

Bagaimana Conie Sema mengenal dunia jurnalistik dan seni khususnya sastra? Ternyata semasa mahasiswa tahun 1987 dia mulai rajin mengirimkan tulisan berupa puisi, cerpen, esai, dan artikel opini ke surat kabar yang terbit di Palembang, seperti Harian Sriwijaya Post, Mingguan Media Guru, dan Mingguan Suara Rakyat Semesta.

Juga menulis di berbagai media pers mahasiswa yang ada di Palembang maupun di Jawa. Dia pernah menjadi aktivis pers mahasiswa. Pada tahun 1988 bersama aktivis pers mahasiswa PTN dan PTS di Palembang, ia membentuk Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) Sumsel dan dia menjabat wakil ketua.

Saya yang pada waktu tersebut menjabat Sekretaris Panitia Kongres ke VI IPMI yang akan berlangsung di Bandarlampung pada Februari 1989, saat itu belum sempat mengenalnya walau kami sama-sama menjadi aktivis Pers Mahasiswa era Orde Baru yang sering dikejar-kejar aparat Orde Baru.

Kongres ke VI IPMI di Bandarlampung gagal terlaksanak karena tidak keluarnya izin dari pemerintah dan pada waktu bersamaan di Lampung terjadi peristiwa GPK Warsidi (istilah yang digunakan penguasa Orde Baru).

Kemudian Conie bergabung dengan pers umum, tahun 1990 menjadi wartawan di Harian Sumatera Ekspres yang saat itu berada di bawah payung Grup Surya Pesindo. Waktu yang sama saya pun bergabung di Harian Lampung Post yang juga jadi bagian dari grup media milik Surya Paloh.

Conie Sema yang pindah ke Lampung melanjutkan karirnya sebagai reporter RCTI. Di sini di menikah dengan Bisri Merduani yang juga menggeluti dunia jurnalistik bermula sebagai wartawati di Harian Lampung Post kemudian menjadi reporter SCTV. Lalu dia lama menetap di Lampung sebelum kemudian kerap pulang ke Palembang dan menghidupkan kembali Teater Potlot yang sempat vakum.

Selain sebagai jurnalis, Conie awalnya menulis puisi dan cerita pendek juga menulis naskah drama dan bergabung dengan grup Teater Potlot yang berdiri di Palembang. Conie Sema adalah tokoh teater Sumatera Selatan (Sumsel) karena dia konsisten terus berkarya selain tetap karyanya mengisi ruang dan kolom media massa terbitan daerah atau media massa nasional.

Dalam perjalanannya berkesenian, Conie Sema dan Teater Potlot adalah dua nama yang tidak terpisahkan. Ia pun mendirikan studio Teater Potlot di Jalan Serasan yang menjadi markas berkumpulnya komunitas seniman yang ada di Palembang. Komunitas Teater Potlot tidak ada kaitannya dengan Gang Potlot yang ada di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta tempat markas dari grup band rock Slank.

Sudah banyak karya terlahir dari seorang Conie Sema, ada puisi, cerpen, novel, opini, esai sampai naskah drama untuk panggung dan layar kaca televisi. Salah satu naskah dramanya berjudul “Rawa Gambut” mendapat Anugerah Rawayan Award 2017 dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)

Teater Potlot yang lahir 15 Juli 1985 kini identik dengan Coni Sema dengan tanpa mengabaikan koleganya Taufik Wijaya adalah grup teater yang konsisten terus berkarya dan manggung. Dari satu pentas ke pentas lain mereka taklukan, bukan hanya di Palembang, Bandarlampung dan Jambi bahkan sampai Jakarta, Padang dan Padang Panjang.

Kini Conie Sema memposisikan Teater Potlot sebagai ilmu pengetahuan, seni rupa, gerak bunyi, arsitektur, ruang geografis alam dan manusia, serta kinerja lintas media sebagai penandanya. Sejak 2016, penampilan dan naskah yang diangkat Teater Potlot identik dengan lingkungan hidup atau bahasa kerennya environment. Teater Potlot adalah bagian dari teater lingkungan tempat manusia dan makhluk Tuhan bermukim.

Salah satunya adalah pementas “Antropogenik” yang naskahnya ditulis Conie Sema ditampilkan di Jambi dan Padang pada 2020. “Antropogenik” lahir dari keresahan dan kegelisahan Conie bersama komunitas Teater Potlot dan mungkin juga kita semua sebagai makhluk Tuhan akan perusakan lingkungan oleh perilaku manusia manusia yang rakus.

Pertunjukan pentas “Antropogenik” melahirkan potongan fragmen tentang ekologi dan lanskap sebagai respon terhadap perubahan iklim yang sudah menjadi isu manusia di muka bumi dan pencemaran lingkungan akibat perilaku manusia. “Antropogenik” adalah potret degradasi lingkungan dari pada pencemaran udara, pemanasan global, juga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) salah satunya. Semua itu dipentaskan aktor-aktor Teater Potlot dengan menggunakan konsep kontemporer tanpa perlu casting dengan memaksimalkan semua potensi dan posisi tubuh sama sesuai alur cerita.

Demikian pula dengan pementasan drama berjudul “Rawa Gambut” Conie menyebutnya sebagai realisme verbal di ruang publik. Pementasan “Rawa Gambut” tulisnya dalam media online Mongabay, “Yang saya tulis dan sutradarai adalah kenyataan realisme dalam teks teater. Saya menggunakan konsepsi realisme tersebut tidak berarti sebagai sebuah kesadaran teater, namun lebih kepada teknik yang bisa dilakukan untuk menyampaikan pesan dalam realitas pertunjukan.”

“Rawa Gambut” menurutnya lahir dari hasil mengumpulkan banyak teks di kawasan gambut pesisir pantai Timur Sumatera, tepatnya di beberapa titik kawasan yang mengalami konflik lingkungan dan budaya di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Pementasan “Rawa Gambut” adalah gambaran degradasi lahan dan pengelolaan gambut yang eksploitatif di kawasan pesisir pantai Timur Sumatera.

Bagi Conie Sema, teater menjadi alternatif gerakan kebudayaan untuk melakukan kritik dan masukan kepada pemangku negara serta lembaga-lembaga swasta dan independen  yang terlibat di pengelolaan dan monitoring lansekap berkelanjutan, khususnya di kawasan gambut Pantai Timur Sumatera.

Maka “Rawa Gambut” adalah pesan yang mengingatkan para pengelola alam, agar segera menghentikan perusakan dan penghancuran peradaban bumi dan sejarah. “Rawa Gambut” mengajak semua untuk kembali menjadi manusia Sriwijaya. Manusia yang menolak segala bentuk eksploitatifisme dalam mengelola sumberdaya alam di bumi ini. Itulah pesan yang ditinggalkan Conie Sema sebelum akhir hayatnya.

Selamat jalan sahabat. Kami, jurnalisme, teater, panggung dan pentas, dan lingkungan berduka atas kepergian mu. (maspril aries)

 

Pos terkait