Firdaus Komar Ketua PWI Sumsel Doktor ke 3 dari Administrasi Publik Unsri

Firdaus Komar saat ujian doktor Fisip Unsri. (FOTO : Maspril Aries)

KATANDA.ID, Palembang – Setelah menjalani pendidikan program strata tiga (S3) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Sriwijaya (Unsri) Firdaus atau juga dipanggil Firdaus Komar berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan meraih gelar doktor administrasi publik.

Firdaus Komar yang menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Selatan (Sumsel) sukses meraih gelar tersebut setelah menjalani ujian terbuka dan mempertahankan disertasi berjudul “Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Lembaga Penguji Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat (Studi Dalam Rangka Mencari Model Pengelolaan Program UKW yang Efektif untuk Memenuhi Standar Kompetensi Wartawan Indonesia,” Rabu (4/1) di kampus Fisip Unsri Palembang.

Bacaan Lainnya

Setelah menjawab sejumlah pertanyaan dari tim penguji dengan promotor Prof Kiagus Muhammad Sobri, Prof Slamet Widodo, Prof Alfitri, Dr Prof Abdul Najib, Dr Andy Alfatih dan penguji tamu Prof Paulus Israwan dari Universitas Jendral Soedirman (Unsoed), Firdaus Komar dinyatakan berhak menyandang gelar doktor dengan predikat pujian.

Pada ujian terbuka promosi doktor yang dihadiri banyak undangan diantaranya wartawan senior yang mantan anggota Dewan Pers Hendry CH Bangun, menurut Dekan Fisip Alfitri, Firdaus Komar doktor ketiga atau lulusan ketiga sejak program S3 Administrasi Pulik dibuka.

Firdaus Komar setelah dinyatakan lulus sebagai Doktor Administrasi Publik. (FOTO : Noverta S)

Dalam disertasinya lebih dari 275 halaman, Firdaus yang pernah menjadi wartawan di Harian Sriwijaya Post dan Berita Pagi menyimpulkan bahwa pada Lembaga Penguji UKW PWI Pusat, fungsi perencanan telah dilaksanakan dengan baik, namun fungsi pengorganisasian belum maksimal, fungsi staf belum efektif, fungsi pengarahan belum maksimal. Demikian pula dengan fungsi pengordinasian, fungsi pelaporan dan fungsi penganggaran belum maksimal.

Firdaus menarik kesimpulan, dari tujuh dimensi fungsi pengelolaan yang merujuk pada teori Luther Gullick, “Dapat dikatakan pengelolaan program UKW di lembaga penguji PWI Pusat belum maksimal,” katanya.

Menurut Firdaus Komar, pola UKW yang diterapkan PWI memang berdampak secara signifikan dengan kualitas pers di Indonesia, termasuk Sumatera Selatan. “Produk pers memang harus berkualitas di era transformasi digital dan tantangan sosial media saat ini. Ada banyak catatan tentang pengelolaan UKW. Tentu melalui UKW kita berharap selaras dengan kualitas pers di lapangan baik itu etika maupun cara mencari berita untuk dijadikan produk pers,” katanya.

Dalam disertasinya Firdaus juga menyoroti tidak adanya syarat khusus yang ditetap untuk menjadi wartawan seperti pada profesi lain, contohnya profesi dokter, advokat atau pengacara dan guru. Akibatnya penyalahgunaan profesi wartawan banyak dan sering bermunculan.

“Apa lagi di daerah-daerah sampai kecamatan dan desa. Publik sering mengeluh dan bertanya, sering oknum wartawan dan oknum LSM mendatangi instansi pemerintah dan sekolah-sekolah dengan alasan mempunyai data penyelewengan dan dengan nada mengancam  arahnya meminta sesuatu dan memeras,” kata putra dari pasangan H Komar dan Hj Mahna yang lahir di Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas pada 8 Januari 1971. (maspril aries)

Pos terkait