Pipin, Sepak Bola Usia Muda dan Medco Energi

Coaching clinic dan seleksi pemain U 16 di Palembang. (FOTO : Humas Medco Energi)

Arifin Panigoro

Pada kesempatan terpisah VP Relations & Security Medco E&P Arif Rinaldi berharap program ini menjadi pengalaman berharga bagi talenta muda sepak bola di wilayah operasi dan meningkatkan kemampuannya, baik fisik maupun mental.

Bacaan Lainnya

“Program ini adalah bagian pemberdayaan masyarakat perusahaan. Ini sesuai dengan salah satu pilar pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang diusung Medco E&P, yaitu pembangunan kapasitas sumber daya manusia melalui olahraga, yang dimulai sejak usia dini,” kata Arif Rinaldi.

Bagi Medco Energi, cawe-cawe dalam urusan pembinaan pemain sepak bola usia muda bukan hal baru. Perusahaan energi ini sudah sejak lama bersentuhan dengan olah raga khususnya sepak bola. Kepedulian KKKS (kontraktor kontrak kerja sama) Medco pada sepak bola tidak terlepas dari kepedulian dan perhatian seseorang yang akrab dipanggil “Pipin” di lingkungan keluarga besarnya.

“Pipin, begitu kami-semua adiknya memanggil sulung kami. Arifin Panigoro. Di dalam keluarga, kami memang tidak mengenal sapaan dengan tambahan kakak.” Kalimat tersebut tertulis dalam buku berjudul “Tak Henti Berbagi – 70 Tahun Arifin Panigoro.”

Ya Pipin adalah Arifin Panigoro pendiri Medco Grup. Arifin Panigoro juga kerap disapa AP. Kepedulian AP pada olah raga khususnya sepak bola tidak hanya sebatas pernyataan. AP sangat peduli pada pembinaan sepak bola pemain usia muda.

AP membuktikan kepeduliannya dengan membangun Maleber Olimpic Center di Desa Meleber, Ciherang, Kabupaten Cianjur pada 2014. Maleber Olimpic Center terletak di daerah berudara sejuk yang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

Arifin Panigoro (FOTO : Repro Buku Tak Henti Berbagi)

AP menginginkan Maleber Olimpic Center nantinya tidak hanya digunakan sebagai pusat latihan sepak bola, tapi juga cabang olah raga lain, seperti atletik, bulu tangkis, renang dan beladiri.

Dalam urusan sepak bola AP tidak hanya menyediakan fasilitas. Di Arena sepak bola dia sudah sejak lama menaruh perhatian pada pembinaan usia dini. Bersama mantan pemain nasional Ronny Pattinasarany (almarhum), tahun 2006 AP menggelar Liga Medco bagi pemain-pemain di bawah usia 15 tahun.

Setiap tahun Liga Medco bergulir dengan melibatkan 3.000 anak – dan 500 pemain tampil di putaran final. Liga Medco ini dibiayai dari kantong AP senilai Rp2 miliar setiap kali berputar dan setiap tahun melahirkan sekitar 50 pemain. Hasil dari komeptisi Liga Medco ada pemain yang berlatih di Uruguay. Lima pemain di antaranya pemain dari SSB Tulehu Putra (Maluku) yang menyandang gelar juara kompetisi 2006.

Kepedulian AP pada sepak bola tidak hanya sebatas pada pemain usia muda. Dari kediaman AP di Jalan Jenggala tahun 2010 pernah lahir buku berjudul “Buku Putih Reformasi Sepak Bola Indonesia,” buku ini kemudian oleh tim penulis diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada tahun 2011 AP juga membuat kompetisi yang dikenal dengan istilah breakaway league. Kompetisi tanpa mafia, mengharamkan pengaturan skor dan tidak menggunakan dana APBD. Kompetisi tersebut bernama Liga Primer Indonesia (LPI) bergulir dengan 19 klub peserta. Sebelum liga bergulir, pengelola LPI mengirim surat resmi afiliasi ke PSSI, tetapi ditolak.

Jadi pembinaan pemain sepak bola usia dini atau usia muda yang kembali digaungkan PSSI bagi Medco Energi bukan suatu hal yang baru dan sekonyong-konyong. Pendiri dan pemilik Medco Grup Arifin Panigoro sudah melakukannya sejak lama.

Sepak bola adalah olah raga yang  paling digemari di negeri ini. Tahun 2008 Ubaidillah Nugraha menulis buku berjudul “Republik Gila Bola.”  Menurutnya pada masa itu di Indonesia ada puluhan juta penonton sepak bola, ratusan klub sepak bola dan 103 jam tayang sepak bola perminggu di layar televisi. Dengan kata lain, animo masyarakat Indonesia terhadap sepak bola lebih besar jika dibandingkan dengan olah raga lain.

Mengutip Bill Murray , bahwa sepak bola selalu mengandung emosi dan fanatisme. Sifat fanatisme sepak bola memiliki keunikan karena orang yang berada di dalamnya rela untuk membela tim kesayangan dengan pengorbanan yang tidak kecil, baik tenaga dan dana. Setiap pertandingan sepak bola diselenggarakan, terutama timnas suatu negara yang bertanding, maka fanatisme akan tertransformasikan menjadi pembangkit nasionalisme melalui semangat pertandingan, ekspresi suporter dan pemain walaupun bersifat sesaat.

Telah dibuktikan dari sejarah olah raga pada masa Soekarno dan Soeratin (pendiri PSSI) dalam membangun karakter bangsa dan negara melalui politik olahraga, maka nasionalisme yang ada dalam olahraga dan sepak bola dapat mengilhami bangkitnya nasionalisme di bidang lainnya.

Menurut Wawan Kokotiasa, Budiyono dan Anjar Mukti W dalam makalahnya, “Membangun Nasionalisme dari Sepak Bola  (Studi Pembinaan Sepak Bola Usia Dini Untuk Membangun Karakter Nasionalis di Kota Madiun)“ sepak bola memiliki potensi besar untuk membangun nasionalisme yang kuat di kalangan masyarakat Indonesia yang majemuk dan sebagai sarana menumbuhkan nasionalisme sejak dini. Usia dini merupakan usia emas (golden age) untuk menumbuhkembangkan nasionalisme, termasuk melalui olah raga sepak bola. ●

Pos terkait