Tenun Serat Nanas Prabumulih Sentuhan ATBM Pertamina

Bantuan Pertamina EP Prabumulih untuk Kelompok Tenun Serat Nanas Riady berupa ATBM dan Mesin Jahit. (FOTO : Humas SKK Migas)

Teknik Tenun

Tenun sendiri adalah salah satu teknik pembuatan kain tradisional yang menjadi salah satu teknik pembuatan sederhana yang sudah dikenal sejak lama pada beberapa daerah di Indonesia. Teknik pembuatan kain dengan cara tenun pada umumnya dilakukan dengan menggabungkan dua buah serat. Pada akhirnya gabungan antara dua buah serat tersebut dapat menjadi sebuah kain.

Bacaan Lainnya

Untuk memproduksi kain dengan cara ditenun tersebut, di Indonesia sendiri terdapat dua macam proses penenunan yaitu tenun dengan menggunakan mesin yang biasa disebut Alat Tenun Mesin (ATM) dan tenun tanpa menggunakan mesin atau biasa disebut Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Mengutip D Zumar dalam “Tenun Tradisional Indonesia” (2007), benang tenun merupakan bahan utama yang harus disediakan sesuai dengan hasil tenun yang diinginkan. Benang ini dihasilkan dari bahan-bahan serat alami yang mudah diperoleh di daerah masing-masing karena negara kita beriklim tropis. Jenis serat yang dulu banyak digunakan untuk menghasilkan benang tenun adalah serat nanas. Pada masyarakat suku Dayak di pedalaman Kalimantan, serat ini diolah menjadi benang.

Masih menurut Zumar, secara umum di negara kita dikenal ada empat teknik menghias kain sebagai bagian dari proses menenun yaitu teknik hias ikat lungsi atau lungsin yaitu teknik dimana kain coraknya dibuat pada benang lungsi/benang yang memanjang di alat tenun.

Teknik hias ikat pakan yaitu teknik yang hampir serupa dengan teknik hias ikat lungsi, hanya perbedaannya terletak pada benang yang diikat. Teknik hias ikat ganda yaitu penggabungan satu lembar kain berdasarkan kedua teknik sebelumnya yang nantinya terjadi persilangan antara benang lungsi dan benang pakan yang tepat bertumpuk pada titik pertemuannya.

Terakhir teknik songket merupakan cara menciptakan ragam hias pada waktu menenun dengan memasukkan pakan tambahan yang melewati benang lungsi dengan irama sesuai dengan ragam hias yang direncanakan.

Ketiga teknik pertama menyangkut penerapan ragam hias pada benang sebelum ditenun, yang kemudian dijalin dengan teknik tenun sederhana, sedangkan teknik songket membentuk ragam hias pada kain pada waktu ditenun dengan menggunakan benang khusus.

Kini di Prabumulih, potensi limbah daun nanas menjadi serat untuk bahan tenun. Di Kelurahan Gunung Ibul, Prabumulih sudah ada Kelompok Tenun Serat Nanas Riady yang menjadi kelompok penenun serat daun nanas pertama di Sumsel.

Kelompok Tenun Serat Nanas Riady yang dipimpin Rita telah berdiri sejak tahun 2021 tepatnya saat pandemi Covid-19. Kemampuan menenun berbahan serat nanas ini berawal dari sebuah pelatihan oleh Pemerintah Kota Prabumulih dengan mendatangkan penenun serat nanas dari Jawa Barat. Kelompok lalu mengembangkan menjadi penenunan serat daun nanas.

Kelompok Tenun Serat Nanas Riady telah mampu memproduksi kain tenun serat nanas yang dikombinasikan dengan benang songket khas Prabumulih. Pada beberapa daerah sudah ada kain tenun kombinasi serat nanas dengan benang, seperti kain tenun Toraja diperoleh dari benang pabrikan dan benang hasil pemintalan kapas dan serat daun nanas.

Keberadaan Kelompok Tenun Serat Nanas Riady ini mendapat perhatian dari BUMN migas Pertamina. Melalui Pertamina EP Prabumulih Field melakukan pembinaan, diantaranya dengan memberikan bantuan alat produksi berupa Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dan mesin jahit.

Kelompok Tenun Serat Nanas Riady adalah mitra binaan Pertamina EP Prabumulih Field untuk program Pemberdayaan Masyarakat dengan Pemanfaatan Serat Nanas Prabumulih (Raden Mas Prabu). Program (Raden Mas Prabu) ini berupaya mengoptimalkan pertanian nanas zero waste dari hulu sampai hilir.

Pos terkait