Tenun Serat Nanas Prabumulih Sentuhan ATBM Pertamina

Bantuan Pertamina EP Prabumulih untuk Kelompok Tenun Serat Nanas Riady berupa ATBM dan Mesin Jahit. (FOTO : Humas SKK Migas)

Untuk program ini Pertamina melibatkan dua kelompok utama, yaitu Kelompok Tani Tunas Jaya pada bagian hulu dan Kelompok Tenun Serat Nanas Riady di bagian hilir.

“Program ini juga merupakan manifestasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL Pertamina EP Prabumulih Field dalam mendorong produk lokal bernilai jual global,” kata Adam S. Nasution yang bersama Tuti Dwi Patmayanti mewakili manajemen Pertamina EP Prabumulih Field saat menyerahkan bantuan ATBM.

Bacaan Lainnya

Menurut Tuti Head Of Comrel & CID Zona 4, “Kelompok Tenun Serat Nanas Riady telah kami dampingi dan akan diproyeksikan sebagai kelompok percontohan tenun serat nanas di Prabumulih mengingat nanas adalah ikon kota ini.”

Selain memanfaatkan limbah serat nanas yang memberi nilai ekonomis, menurut Tuti, program Raden Mas Prabu juga mendorong penurunan emisi karbon dioksida (CO2) akibat dari pembakaran daun nanas pasca panen. “Selama ini kan limbah daun nanas setelah panen tidak termanfaatkan dimusnahkan dengan cara dibakar,” ujarnya.

Dengan adanya bantuan dan pembinaan dari Pertamina, Rita Ketua Kelompok Tenun Serat Nanas Riady berharap bantuan dan pendampingan Pertamina tersebut usaha yang dirintisnya bersama anggota kelompoknya bisa berkembang dan meningkatkan hasil produksi sehingga memberikan kesempatan memperluas pemberdayaan bagi masyarakat sekitar yang berkelanjutan.

Pemberdayaan oleh Pertamina dalam memanfaatkan daun nanas menjadi serat nanas sebagai bahan pembuat kain tenun mendapat dukungan dari SKK Migas Sumatera bagian Selatan (Sumbagsel). Menurut Safe’i Syafri Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, adanya kegiatan hulu migas di daerah memang harus memberikan efek sebesar-besar dan sebanyak-banyaknya bagi masyarakat.

“Keberadaan industri hulu migas tidak hanya menyumbang PAD melalui dana bagi hasil migas namun hulu migas senantiasa diberikan tanggung jawab untuk peduli kepada pengembangan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Sehingga melalui program pengembangan ini kami berharap masyarakat dapat merasakan langsung bagaimana multiplier effect kegiatan hulu migas ini,” ujarnya.

Sinergi antara industri hulu migas melalui pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan limbah daun nanas berpotensi menghasilkan bahan baku tekstil karena, dapat dijadikan benang melalui proses pemintalan. Serat nanas juga memiliki bentuk serat berupa filament, tanpa dipintal terlebih dahulu serat tanaman tersebut dapat digunakan sebagai langsung benang karena bentuknya yang sudah halus seperti benang.

Tanpa mencampur serat tersebut dengan material lain, serat tanaman nanas dapat digunakan langsung sebagai bahan baku tekstil sebagai benang pakan untuk tenun. Silahkan berkreasi dengan serat nanas untuk mendapatkan nilai tambah sekaligus menyelamatkan lingkungan dengan penurunan emisi karbon dioksida (CO2) akibat dari pembakaran daun nanas pasca panen. (maspril aries)

 

 

Pos terkait