Ketua SEMA Itu Kini Pj Wali Kota Palembang

Ratu Dewa Pj Wali Kota Palembang. (FOTO : IG @ratudewa)

Dari berbagai tulisannya, terlihat bahwa Ratu Dewa adalah pada awal tahun 2000 adalah sosok anak muda yang bersemangat dan multi talenta ide dan pemikiran yang ada dalam benak. Melalui tulisannya ia bisa fasih mengartikulasikan tentang masalah pemuda atau generasi muda, gagasannya tentang pembangunan dan juga tentang problema sosial dan politik.

Ratu Dewa bersama pegawai honorer yang dilantik menjadi PPPK (FOTO: IG @ratudewa)

Jika di tengah masyarakat ada wacana, jika mencari pemimpin lihatlah jejak atau track record-nya, maka tentang sosok Ratu Dewa semua bisa dilacak dan terangkum pada dokumentasi buku yang ditulisnya atau yang diterbitkannya.

Bacaan Lainnya

Selain dari buku “Lafaz Pena Mantan Aktivis” track record Ratu Dewa bisa dilacak dari biografinya yang berjudul “Ekstrasi Sebuah Doa Hj. Zalipah” yang ditulis Sri Maryati terbit Juli 2021. Dalam buku banyak terangkum perjalanan dan kehidupan Ratu Dewa.

Karir di Birokrasi

Interaksi dengan Ratu Dewa yang terjalin sejak dirinya menjabat Kasubag Penerangan, Publikasi dan Dokumentasi Humas Pemprov Sumsel (2002 – 2006) sempat melahirkan beberapa kolaborasi antara ASN yang bertugas sebagai Humas dengan seorang jurnalis atau wartawan.

Pada suatu kesempatan, Ratu Dewa mengajak berbicara di ruang kerjanya yang berudara sejuk. “Mas saya mau minta bantuannya?”

“Bantuan apa Pak Kabag?” demikian saya menyapanya.

“Kami di Humas sedang menerbitkan buku tentang kegiatan Gubernur Sumsel Syahrial Oesman. Bukunya akan ditulis Iwan Irawan wartawan Sumatera Ekspres. Mas saya minta membuat catatan untuk bukunya, bukan kata pengantar,” kata Ratu Dewa.

Dari penggalan interaksi kami, saya pun setuju untuk menyumbangkan sebuah tulisan pada buku yang diberi judul “Bersama Rakyat Saya Mengabdi”. Pada buku yang terbit tahun 2006 tersebut saya menulis catatan berjudul “Syahrial Oesman: ‘Katakan dengan Buku’”.

Judul catatan tersebut terinspirasi dari tulisan AM Fatwa Wakil Ketua MPR saat itu berjudul “Katakan dengan Buku” yang dimuat di Harian Kompas terbitan 6 Februari 2006. Menurut Fatwa (alm), “Judul tulisan ini diinspirasi oleh keinginan untuk menjadikan buku sebagai tanda penghargaan dan keakbran dengan orang lain. Dengan demikian, ia menjadi sesuatu yang begitu dekat dengan kita, bahkan menjadi ikon yang mengikat emosionalitas kita untuk membaca”.

Jauh hari atau berbilang tahun kemudian saat Ratu Dewa dilantik sebagai Pj Wali Kota Palembang menggantikan Wali Kota Harnojoyo yang habis masa jabatannya, terlintas dalam pikiran, “Mengapa Ratu Dewa meminta saya menulis catatan pada buku “Syahrial Oesman: ‘Katakan dengan Buku”? Saya belum mendapat jawabannya, mungkin jika ada kesempatan saya akan menghadap Pj Wali Kota Palembang tersebut dan bertanya untuk mendapat jawabannya.

Pos terkait