KATANDA.ID, Palembang – Peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam (P5H5M) yang terjadi pada 1–5 Januari 1947 kembali digelar di Kota Palembang. Memasuki tahun kelima pelaksanaannya, kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu pagi (3/1/2025) di Pelataran Lawang Borotan, kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang.
Peringatan P5H5M tahun ini mengusung tema “Dengan Semangat Juang Pertempuran Lima Hari Lima Malam, Kita Lestarikan Cagar Budaya Berbasis Pertahanan.” Kegiatan diawali dengan pawai yang melibatkan berbagai komunitas dan masyarakat.
Pawai dipimpin langsung oleh Wali Kota Palembang, Drs. Ratu Dewa, M.Si, didampingi Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja, S.H., M.Kn, Ketua Pelaksana P5H5M Vebri Al Lintani, serta Ketua Umum Komunitas Jeep Pariwisata (KJP) H. Darmawan, bersama jajaran Pemerintah Kota Palembang.
Rute pawai dimulai dari Lawang Borotan, menyusuri Jalan Jenderal Sudirman menuju RS Charitas, melintasi Jembatan Ampera, Jalan KH Wahid Hasyim, Jalan Walikota H. Husni, Jembatan Musi VI, Jalan Makrayu, Jalan Ki Gede Ingsuro, Jalan Sungai Tawar, dan kembali finis di Lawang Borotan.
Deretan mobil jeep tua seperti Willys dan Jeep Ford GPW menjadi daya tarik utama, disusul sepeda ontel yang dikayuh pemuda-pemudi berseragam pejuang lengkap dengan ikat kepala merah putih dan bendera. Suasana tersebut seakan membawa masyarakat kembali ke masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa turut mengenakan seragam pejuang lengkap dengan atributnya dan bahkan sempat mengemudikan langsung jeep yang ditumpanginya selama pawai. Meski diguyur hujan, kegiatan tetap berlangsung lancar dan khidmat.
Beragam pertunjukan seni dan tradisi turut memeriahkan acara, seperti kuntau, CBCA, syarofal anam, hingga korsik biola dan saksofon yang membawakan lagu-lagu perjuangan seperti Gugur Bunga serta lagu-lagu Nusantara. Pertunjukan teatrikal dan pantomim juga ditampilkan untuk memperkuat narasi heroisme rakyat Palembang dalam peristiwa P5H5M.
Momen penuh makna lainnya adalah penyerahan tali kasih kepada para veteran sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanan mereka. Rombongan juga menyempatkan diri meninjau Pameran Barang Jadoel yang menampilkan koleksi benda antik era perjuangan kemerdekaan.
Sultan Palembang Darussalam SMB IV menekankan pentingnya pemahaman sejarah, khususnya bagi generasi muda Palembang. Ia berharap peringatan P5H5M dapat terus berlanjut dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Palembang serta seluruh sektor terkait.
“Masih banyak generasi muda yang belum mengetahui sejarah perjuangan lokal Palembang. Padahal, Palembang memiliki pahlawan-pahlawan daerah yang berjasa besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.
Ia juga berharap peringatan P5H5M ke depan tidak hanya berupa pawai, tetapi diperluas dengan pendekatan budaya, edukasi, dan sejarah yang melibatkan Dinas Pendidikan serta instansi lainnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana P5H5M Vebri Al Lintani menyampaikan apresiasi atas komitmen Wali Kota Palembang meski kegiatan tahun ini belum teranggarkan dalam APBD.
“Peringatan ini terlaksana berkat swadaya dan kesadaran para relawan yang peduli terhadap sejarah. Kami berharap ke depan kegiatan ini bisa didukung regulasi dan anggaran agar dilaksanakan secara lebih masif,” katanya.
Ia menambahkan, berdasarkan catatan PMI, sekitar 2.000 hingga 3.500 jiwa gugur dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan di Palembang, menjadikan P5H5M sebagai salah satu pertempuran besar yang melibatkan tiga matra militer Belanda.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa menegaskan bahwa peringatan P5H5M bukan sekadar seremoni, melainkan sarana menanamkan nilai perjuangan kepada generasi muda sejak dini.
“Lima Hari Lima Malam adalah pengingat bahwa kemerdekaan dibayar mahal. Tugas kita hari ini adalah menjaga dan mengisinya dengan karya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa P5H5M telah masuk dalam kalender event Dinas Pariwisata Kota Palembang dan akan dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sulaiman Amin menyebut peringatan ini juga menjadi momentum mengangkat potensi wisata sejarah di Palembang, sementara Ketua Dewan Kesenian Palembang M. Nasir menilai P5H5M memiliki nilai strategis dalam penguatan identitas kota sekaligus pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan budaya. (*)









