Jelang Kongres HMI Ke-XXXIII di Lampung
KATANDA.ID, Palembang – Menjelang Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-XXXIII yang rencananya digelar pada akhir November 2026 di Provinsi Lampung, atmosfer organisasi mahasiswa kembali menghangat.
Kongres HMI bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan. Bagi kader HMI, kongres menjadi ruang bertemunya gagasan, pengalaman dan semangat anak muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Ribuan kader HMI diperkirakan akan hadir. Mereka membawa latar belakang, pengalaman serta pandangan yang berbeda, namun dipertemukan oleh semangat yang sama untuk membicarakan masa depan organisasi dan kontribusinya bagi bangsa.
Menjelang pelaksanaan kongres, dinamika persiapan juga mulai menjadi perhatian. Salah satunya terkait Panitia Nasional (Panasko) Kongres HMI XXXIII.
Informasi yang berkembang, penetapan Ketua Panasko dijadwalkan dibahas dalam rapat harian PB HMI melalui pleno ketiga pada 2 Oktober 2026.
Sejumlah nama mulai disebut dalam bursa calon Ketua Panasko. Di antaranya Muldan, Pengurus Presidium PB HMI yang juga pernah menjabat Ketua Umum HMI Cabang Bandar Lampung, serta Ramadhan, mantan Sekretaris Umum Badko HMI Sumbagsel yang juga memiliki latar belakang dari HMI Cabang Bandar Lampung.
Mekanisme penentuan Ketua Panasko disebut akan mengutamakan musyawarah mufakat. Jika mufakat tidak tercapai, proses selanjutnya dapat ditempuh melalui mekanisme voting.
Di sisi lain, dinamika juga mulai terlihat dalam bursa calon Ketua Umum PB HMI. Sejumlah nama disebut-sebut masuk dalam pembicaraan internal kader, salah satunya Muhammad Hakiki, M.H. Lahir di Pontianak, 31 Mei 1996, Muhammad Hakiki merupakan kader yang menempuh perjalanan organisasi cukup panjang di lingkungan HMI.
Ia mengikuti Basic Training LK I pada 2014 di HMI Komisariat Tarbiyah Cabang Pontianak, Intermediate Training LK II pada 2017 di HMI Cabang Bangkalan, serta Advance Training LK III pada 2020 di Badko HMI Kalimantan Barat. Selain itu, ia tercatat sebagai alumni PPNK 219 Lemhannas RI.
Perjalanan organisasinya dimulai dari tingkat komisariat. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Umum HMI Komisariat Syariah periode 2017-2018, kemudian Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Pontianak periode 2018-2019.
Pengabdian itu berlanjut hingga akhirnya Muhammad Hakiki dipercaya menjadi Ketua Umum HMI Cabang Pontianak periode 2020-2021.
Menjadi ketua umum cabang bukan sekadar soal jabatan. Di fase tersebut, seorang kader dituntut belajar mengambil keputusan, mengelola perbedaan, mendengar berbagai pandangan dan memastikan organisasi tetap berjalan untuk kepentingan kader serta masyarakat.
Pengalaman di tingkat cabang kemudian membawanya ke panggung organisasi yang lebih luas.
Pada periode 2021-2023, Muhammad Hakiki dipercaya sebagai Wakil Bendahara Umum PB HMI. Selanjutnya, pada periode 2024-2026, ia menjalankan amanah sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Eksternal PB HMI.
Perjalanan dari komisariat, cabang hingga tingkat nasional menjadi bagian dari proses panjang pembentukan seorang kader.
Di ruang eksternal, ia dituntut membangun komunikasi, menjaga hubungan kelembagaan, memperluas jejaring dan membawa gagasan HMI agar dapat hadir dalam ruang publik yang lebih luas.
Bagi generasi muda, perjalanan seperti ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari proses, pengalaman, keberanian mengambil tanggung jawab dan kesediaan untuk terus belajar.
Kongres HMI XXXIII nantinya akan menjadi salah satu ruang penting bagi kader untuk kembali mempertemukan gagasan.
Bukan hanya tentang siapa yang akan memimpin, tetapi juga tentang ke mana organisasi akan melangkah dan gagasan apa yang ingin diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, suara mahasiswa tetap memiliki ruang penting. Sebab dari ruang-ruang diskusi, perdebatan gagasan dan proses kaderisasi itulah, banyak anak muda belajar memahami persoalan bangsa dan mempersiapkan diri untuk mengambil peran di masa depan. (Mil)










