Oleh : Maspril Aries
Wartawan senior Saur Hutabarat yang memulai karirnya sebagai jurnalis di Majalah Tempo mengatakan, “Jurnalisme memerlukan kecerdasan yang lebih tinggi. Di era digital jurnalis dituntut berkemampuan majemuk untuk multimedia. Inilah generasi multitasking yang lentur dalam sistem konvergensi.”
Kemajuan teknologi informasi berperan mempermudah terciptanya konvergensi. Makna konvergensi sendiri adalah perubahan, dimana revolusi teknologi informasi yang ditandai dengan menyatunya fungsi koran, majalah, radio, televisi, media siber, dan media sosial ke dalam satu media, satu perangkat.
Menurut wartawan senior Ahmed Kurnia Soeriawidjaja dalam “Menjadi Wartawan di Era Konvergensi,” konvergensi media terjadi melalui proses digitalisasi, media online yang dapat diakses melalui smartphone mampu menghadirkan konten audio dan visual bahkan live streaming. Konvergensi media tidak hanya melibatkan multi platform dalam penyebaran informasi, tetapi juga multisource.
Sebelum era konvergensi media tiba di Indonesia, wartawan Harian Pikiran Rakyat Zaki Yamani menulis sebuah artikel berjudul “Konvergensi Media dan Tantangannya Jurnalisme” (9/5/2007). Menurutnya, suatu hari di tahun 1990, Bill Gates datang ke redaksi salah satu koran terbaik di Amerika Serikat, Los Angeles Times. Dia diundang untuk mengikuti rapat dewan redaksi koran tersebut. Dia diundang untuk mendiskusikan nasib media cetak di tengah gempuran teknologi komunikasi.
Bill Gates mengatakan, “Koran atau media cetak lainnya masih merupakan bisnis yang menarik. Tetapi, jika pebisnis media cetak tidak jeli menyikapi kemajuan teknologi dan perubahan minat masyarakat, kiamat bisnis ini sudah di pelupuk mata.” Sebelumnya Bill Gates pernah sesumbar. Pendiri Microsoft Corp itu mengatakan, “Kelahiran internet berarti kematian koran dan majalah.”
Apa yang disampaikan Bill Gates menjadi kenyataan, satu persatu media massa cetak, surat kabar, tabloid dan majalah satu persatu tumbang, berhenti terbit. Di Indonesia Yang terbaru adalah Harian Republika sejak 1 Januari 2023 edisi cetak stop terbit. Sebelumnya sudah banyak media cetak yang lebih dahulu stop terbit.
Semua itu menjadi konsekwensi bahwa ke depan masyarakat dari hari ke hari mulai berubah menjadi konsumen informasi yang menginginkan sesuatu yang spesifik. Masyarakat atau pembaca semakin jenuh dengan format koran yang menghimpun segala macam informasi dalam satu bundel kertas. Masyarakat mencari media lain dengan informasi yang lebih spesifik.
Pada era milenial keinginan masyarakat semakin sulit dibaca, gempuran teknologi informasi telah mengubah pola konsumsi informasi. Dari situ lalu lahir pemikiran atau satu gagasan yang disebut convergent media atau lebih spesifik lagi untuk kalangan jurnalis: convergent journalism.
Kini banyak perusahaan media mainstream melakukan konvergensi, mereka memiliki tiga medium, yaitu cetak, broadcast (televisi dan radio), dan online yang beroperasi secara berjaringan, saling berbagi dalam informasi, dan menyajikannya di masing-masing medium itu. Konvergensi media mmenjadi kunci keberlangsung industri media pada era multimedia atau era media digital.
Konvergensi media tersebut kemudian dilengkapi dengan kehadiran media jejaring sosial dengan berbagai variannya. Media jejaring sosial merupakan nama lain dari social media online. Media jejaring sosial adalah dalam social media online bukan mass media online, karena memiliki kekuatan sosial yang sangat mempengaruhi opini publik yang berkembang di masyarakat.
Media sosial atau dalam bahasa Inggris Social Media terdiri dari kata social arti kemasyarakatan atau sebuah interaksi dan media adalah sebuah wadah atau tempat sosial itu sendiri. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.
Media sosial (medsos) seperti media massa juga memiliki kekuatan sosial, politik dan budaya serta memiliki kekuatan lain dari perspektif komunikasi selain sebagai alat atau media komunikasi, berperan untuk membentuk publisitas dan pencitraan inidividu atau lembaga atau perusahaan.
Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein dalam “Users of the World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media” (2010), mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun di atas dasar ideologi dan teknologi web 2.0 dan memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content. Web 2.0 menjadi platform dasar media sosial.
Media sosial (social media) telah hadir menjadi bagian dari kehidupan manusia modern pada era milenian. Medsos memiliki tren 3S, yakni Social, Share and Speed. Social adalah bagaimana seseorang terhubung dengan orang lain dan saling berbagi. Share adalah bagaimana seseorang membagikan pengalamannya kepada orang lain, melalui teks, foto, video, apapun itu, melalui jejaring social. Speed bagaimana jejaring sosial bisa memberikan informasi yang sangat cepat, melebihi kecepatan wartawan menuliskan berita.
Andreas M Kaplan & Michael Haenlein membagi media sosial dalam enam jenis atau varian. Pertama, proyek kolaborasi, yaitu sebuah website yang mengizinkan user-nya mengubah, menambah dan membuang content-content yang berada di website, contohnya Wikipedia.
Kedua Blog dan Microblog, yaitu user bebas mengekpresikan sesuatu seperti curhat/kritik terhadap kebijakan pemerintah, contohnya Twitter. Ketiga, , Content Communities, yaitu user dan pengguna website untuk saling share content, seperti video, gambar, suara, contohnya YouTube, SoundCold, Tumblr dan lainnya.
Keempat, Situs jejaring sosial yaitu sebuah aplikasi yang mengizinkan user saling terhubung dengan orang lain dan berisikan informasi pribadi dan dapat dilihat orang lain, contohnya Instagram, Facebook, Blackberry Messanger, Messanger, Path, WhatsApp dan sebagainya.
Kelima, Virtual Game World yaitu dunia virtual yang menggunakan teknologi 3D, dimana user berbentuk avatar dan berinteraksi dengan orang lain, contohnya Games Online. Keenam, Virtual Sosial World yaitu dunia virtual yang user merasa hidup di dunia maya dan berinteraksi dengan yang lain, contohnya Second Life.
Media sosial (social media) telah menjadi bagian dari kehidupan manusia modern saat ini. Diperkirakan yang akan menjadi trend adalah 3S, yakni Social, Share and Speed. Social adalah bagaimana seseorang terhubung dengan orang lain dan saling berbagi. Share adalah bagaimana seseorang membagikan pengalamannya kepada orang lain, melalui teks, foto, video, apapun itu, melalui jejaring social. Speed bagaimana jejaring sosial bisa memberikan informasi yang sangat cepat, melebihi kecepatan wartawan menuliskan berita.
5 W + 1 H
Menurut Yenrizal doktor Ilmu Komunikasi dari Fisip UIN Raden Fatah, “Jurnalistik tidak akan mati, tapi berubah sudah pasti.” Jurnalistik dapat diartikan sebagai kabar, informasi atau berita. Kabar, informasi atau berita itu harus dikomunikasikan atau disampaikan secara lisan dan tulisan.
Pada media massa cetak dan media online, berita tersebut disampaikan secara tertulis dengan teks atau dilengkapi dengan foto. Tak beda dengan di media sosial, pemilik akun atau user ada juga yang menyebut konten kreator untuk berbagi pengalamannya kepada orang lain juga melalui teks, foto atau video.
Bagi seorang wartawan atau jurnalis saat menulis berita akan merujuk pada rumus atau memasukan unsur 5 W + 1 H (What, Who, Where, When, Why + How). Langkah pertama dalam menulis berita adalah menentukan dan memastikan topik yang aktual atau peristiwa untuk diketahui publik (pembaca). Bisa juga dari kejadian unik yang menarik perhatian masyarakat biasa disebut viral.
Apa itu berita? Ada banyak definisi berita di muka bumi. Satu definisi dari wartawan senior Dja’far H Assegaff dalam buku “Jurnalistik Masa Kini,” berita adalah laporan tentang fakta atau ide yang termasa (baru), yang dipilih oleh staf redaksi untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca.” Atau berita adalah laporan peristiwa aktual, faktual, penting, dan menarik yang dipublikasikan di media massa.
Langkah berikutnya adalah dengan memilih angle berita atau news angle. Mengutip Bob Franklin dkk dalam “Key Concepts in Journalism Studies.” (2005), news angle adalah perspektif atau sudut pandang dari mana sebuah peristiwa dilaporkan. Setiap wartawan akan memilih news angle yang berbeda.
Dalam penulisan berita, struktur sebuah berita pada umumnya berbentuk Piramida terbalik. Struktur ini memuat bagian informasi sebuah berita dari yang paling penting hingga yang biasa dari sebuah berita.
Struktur berita tersebut terdiri dari “Judul Berita” yang berisi kalimat yang mewakili substansi berita. “Teras Berita” ada juga yang menyebut “lead” merupakan bagian terpenting yang menceritakan intisari berita. Kemudian “Tubuh Berita” adalah rangkaian keterangan untuk melengkapi informasi di dalam teras berita. “Penutup Berita” menuntaskan alur informasi kepada publik sesuai urutan substansi berita.
Dalam menulis berita untuk media massa harus dicamkan bahwa tidak semua kejadian atau peristiwa dapat dilaporkan kepada khalayak sebagai berita. Agar berita dapat bermanfaat bagi kepentingan banyak orang, berita harus memiliki nilai berita.
Nilai berita menurut Agus Sudibyo (anggota Dewan Pers 2019 – 2022) adalah sejumlah kriteria yang digunakan untuk menentukan kadar kelayakan peristiwa atau isu untuk diberitakan media massa.
Nilai-nilai berita sebagaimana dipahami dan dipraktekan banyak pihak adalah : 1. Keluasan Pengaruh (Magnitude). 2. Arti Penting (Significance). 3. Aktualitas (Actuality). 4. Kedekatan (Proximity). 5. Popularitas (Prominence). 6. Kejelasan (Clarity). 7. Kejutan (Surprise). 8. Dampak (Impact). 9. Konflik (Conflict). Kepedulian Khalayak (Human Interest).
Menulis di Medsos
Menurut laporan agensi marketing We Are Social pada Januari 2021 dan platform manajemen media sosial Hootsuite, lebih dari separuh penduduk di Indonesia telah “melek” alias aktif menggunakan media sosial. Dari total 274,9 juta penduduk Indonesia, 170 juta di antaranya telah menggunakan media sosial.
Jumlah pengguna media sosial tersebut meningkat sebanyak 10 juta atau sekitar 6,3 persen dibandingkan bulan Januari 2020. Dari frekuensi penggunaan bulanan, urutan pertama aplikasi media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia ternyata ditempati oleh YouTube, disusul oleh WhatsApp, Instagram, Facebook, lalu Twitter. Instagram sebagai salah satu media popular di Indonesia dengan pengguna aktif sebanyak 85 juta.
Instagram memberikan ruang kepada pengguna untuk dapat berkreasi dengan memanfaatkan fitur yang ada di dalamnya. Bentuk postingannya berupa foto dan video sehingga dari Instagram banyak lahir konten kreator atau sering disebut sebagai influencer. Instagram memiliki beberapa fitur, diantaranya fitur pemberian caption atau tulisan di bawah gambar yang berfungsi untuk menjelaskan isi gambar. Fitur lainnya adalah fitur tandai (tag) dan fitur sebut (mention).
Konten kreator adalah orang-orang yang membuat materi (konten) yang memiliki nilai edukasi dan hiburan. Instagram memberi ruang kepada user atau pemilik akun atau konten kreator untuk menulis teks. Konten kreator menulis teks mengunggah foto dan video yang membahas tentang berbagai hal. Ada brand (merek dagang), perusahaan yang menggunakan jasa konten kreator dalam melakukan branding atau penyampaiaian pesan produk tertentu untuk meng-influence para followers dari konten kreator tersebut.
Instagram memberi ruang kepada konten kreator atau user atau pemilik akun untuk menulis teks. Gaya atau model penulisan berita di media massa dapat digunakan untuk menyampaikan informasi melalui instagram.
Seorang konten kreator dalam menulis konten (teks) yang baik adalah konten yang direncanakan. Untuk merencanakan sebuah konten harus diperhatikan topik bahasan/ fokus isu, tujuan konten, dan kenali kriteria platform media sosial yang digunakan.
Untuk penulisan di facebook, berdasarkan hasil beberapa penelitian menemukan bahwa pengguna facebook sering menulis untuk mengungkapkan isi hati, pikiran, ataupun juga pandangan mengenai suatu hal dalam bentuk status.
Menulis hanyalah salah satu bentuk keterampilan berbahasa dari bentuk keterampilan berbahasa yang lainnya seperti menyimak, membaca, dan berbicara. Keterampilan menulis dikategorikan sebagai keterampilan produktif, salah satu bentuk keterampilan tersebut adalah keterampilan menulis pada multimedia, diantaranya menulis di blog, laman facebook dan instagram.
Citizen Journalism
Pada era digital, internet selain telah melahirkan konvergensi media dan media sosial juga melahirkan citizen journalism atau jurnalisme warga. Jurnalisme warga merupakan berita yang dituliskan oleh masyarakat luas dengan kemampuan non profesional. Berita yang disampaikan kepada khalayak adalah berita yang benar-benar terjadi di masyarakat tanpa adanya proses editing oleh redaktur seperti pada media massa.
Fenomena jurnalisme warga sendiri telah mengubah arah produksi berita, dari yang hanya bisa dikuasai segelintir orang dengan modal besar, kini setiap orang dapat memproduksi berita dengan bermodalkan komputer dan akses internet. Dan Gilmor (2006) sebagai penganggas jurnalisme warga menyatakan perubahan ini memang bisa disebut revolusioner.
Dalam bukunya berjudul “We the Media: Grassroots Journalism by the People for he People” (2006) Dan Gillmor mantan kolumnis teknologi di San Jose Mercury News menulis, “Abad 21 akan menjadi tantangan berat bagi media massa konvensional atas lahirnya jurnalisme baru yang sangat berbeda dengan jurnalisme terdahulu.”
Selain itu kelahiran citizen journalism diperkuat oleh kekecewaan warga akan pemberitaan di media mainstream yang sarat kepentingan politik dan ekonomi. Agenda setting yang ditetapkan media mainstream, seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan warga. maka ketika teknologi internet muncul, warga memiliki alternatif cara untuk mendapatkan informasi sekaligus bereaksi atas informasi yang ia terima. Makin banyaknya pengguna internet, citizen journalism pun makin berkembang pesat
Menurut Clyde H Bentley dari School of Jurnalisme Missouri, bahwa sebagian besar masyarakat tidak ingin menjadi jurnalis, tapi mereka ingin berkontribusi secara nyata dengan menuliskan pikiran atau pendapat mereka tentang suatu hal.
Kini jurnalisme warga hadir di platform media sosia dan juga di media online dimana media massa mainstream menyediakan ruang atau rubrik untuk jurnalis warga mengirimkan beritanya. Seperti di Republika Online ada kanal Retizen juga ada Kompasiana.com yang diusung Kompas. Demikian pula di televisi dan radio membuka rubrikasi jurnalisme warga.
Bagi mereka yang menjadi jurnalis warga, idealnya dalam menulis informasi yang akan disebar luaskan belajar mengedepankan unsur 5W+1H agar berita/ informasi yang disampaikan memiliki standar dan bisa dimengerti para pembacanya. Faktanya, banyak citizen journalism tidak selalu mengedepankan unsur tersebut karena hanya mengedepankan kecepatan dan kolaborasi.
Selain itu jurnalisme warga berbeda dengan berita yang disajikan media mainstream yang memperhatikan kode etik jurnalistik. Walau belum ada panduan etika resmi bagi jurnalisme warga, Priambodo pengajar pada Lembaga Pers Dr Sutomo (LPDS) memberikan sepuluh panduan etika bagi jurnalisme warga. Yaitu : 1. Tidak plagiat; 2. Cek dan ricek fakta dan data; 3. Jangan gunakan sumber anonim; 4. Perhatikan dan peduli kaidah/nasehat hukum; 5. Utarakan rahasia secara selektif; 6. Hati-hati dengan pendapat narasumber; 7. Pelajari batas daya ingat; 8. Hindari konflik kepentingan; 9. Dilarang lakukan pelecehan; serta 10.Pertimbangkan setiap pendapat. ●










