KATANDA.ID, Palembang – Masih dalam aroma suasana Idul Fitri 1444 H, enam wartawan senior dari Jakarta, Padang dan Palembang bertemu menjalin silaturahmi di Palembang, Ahad (30/4).
Enam wartawan tersebut, Ramdani Sirait (mantan wartawan Antara di New York), Yurnaldi (mantan wartawan Kompas/ penulis buku dari Padang), Weny Ramdiastuti (Pemimpin Redaksi Harian Tribun Sumsel), Aina Rumiyati Aziz (mantan Kepala Biro Koran Sindo Palembang/ Advokat), Mushaful Imam (mantan wartawan foto Koran Sindo) dan Maspril Aries (mantan wartawan Republika/ penggiat literasi/ penulis buku), terlibat dalam diskusi panjang seputar perkembangan pers.
“Silaturahmi ini sekaligus reuni jurnalis dari Sumatera Selatan yang pernah meliput langsung tambang PT Freeport Indonesia di Papua. Beruntung kami bisa menjejakkan kaki sampai ke tambang Grasberg yang ada pada ketinggian 4.800 meter di atas permukaan laut atas undangan langsung CEO PT Freeport Indonesia saat itu Armando Mahler almarhum,” kata Aina Rumiyati Aziz.
Diskusi dan obrolan berlangsung di dua tempat sambil minum kopi dan teh dilanjutkan makan siang pada sebuah mal di Jalan POM IX. Menurut Weny dalam produks jurnalisme saat ini ada yang hilang dibandingkan sebelum kehadiran jurnalisme online.
“Saat ini wartawan sudah sudah tidak tahu apa itu news value, bagi mereka ukuran dan standar berita adalah viral. News value sudah tergusur dari kaidah jurnalistik yang seharusnya menjadi roh sebuah berita, kami di Tribun Sumsel sedang berupaya mengembalikan dalam pemberitaan. Jadi berita itu bukan sekedar viral tapi ada news value,” kata Weny yang sempat mengenyam pendidikan di Institut Ilmu Soial dan Ilmu Politik (IISIP) jurusan jurnalistik.
Juga ada diskusi yang tentang jurnalisme milenial dan algoritma. Menurut Maspril Aries dengan mengutip pernyataan anggota Dewan Pers Arif Zulkifli, “Jurnalisme yang serba cepat saat ini jurnalisme yang menghamba pada algoritma, jelas saja banyak wartawan tidak tahu dan tidak bisa membedakan mana informasi yang memiliki news value atau tidak. Bagi mereka yang penting viral,” ujarnya.

Diskusi juga membahas tentang wartawan dan konten kreator atau creator content. Mereka yang bekerja di perusahaan pers tidak pernah liputan ke lapangan, tidak pernah wawancara nara sumber, hanya mengutak-atik berita atau informasi yang berseliweran di internet, tidak pantas disebut wartawan.
Sementara itu Ramdani Sirait mengusulkan gagasan agar teman-teman wartawan atau penulis di daerah menyatu membuat gerakan literasi. “Di Jambi teman-teman wartawan dan pegiat literasi di sana sudah mulai menggagas untuk melaksanakan kegiatan literasi seperti model Ubud Writers and Readers Festival di Bali. Palembang bisa juga melakukan ini,” ujarnya.
Sementara itu wartawan senior dan penulis asal Sumatera Barat (Sumbar) Yurnaldi Paduka Raja berbagi kabar gembira, dirinya meraih penghargaan dari DPD Satupena Sumbar.
Penghargaan diberikan pada rangkaian Halalbihalal dan orasi budaya Satupena Sumbar di Hotel Kyriad Bumi Minang. “Penghargaan ini merupakan apresiasi dari teman-teman penulis dan wartawan di Ranah Minang yang bergabung dalam DPD Satupena Sumbar. Terima kasih atas penghargaan ini,” kata Yurnaldi.
Menurut Yurnaldi yang pernah bekerja sebagai wartawan Harian Kompas, agenda Halalbihalal dan orasi budaya ini serta pemberian penghargaan ini merupakan bagian dari program kerja Satupena Sumbar yang terbentuk pada Maret 2022. “Daerah lain yang sudah DPD Satupena seperti Sumsel bisa melakukan seperti ini,” ujarnya.
“Sebelumnya Satupena Sumbar telah menggelar kegiatan Internasional Minangkabau Literacy Festival atau IMLF di pada Juli 2022 lalu Gedung Museum Aditiyawarman,” kata Yurnaldi telah menulis banyak buku khususnya tentang jurnalisme. (maspril aries)









