Jurnalisme Profetik antara Parni Hadi dan Hadi Prayogo

Hadi Praoyogo pada ujian disertasi doktor di UIN Raden Intan. (FOTO : FB Hadi Prayogo)

“Wartawan tidak cukup hanya sebagai pelapor, tetapi juga pelopor, juga sebagai inisiator, moderator, bahkan sponsor, tetapi tidak menjadi provokator,” tulis Parni Hadi.

Menurut Asep Syamsul M Romli dalam “Jurnalistik Dakwah : Visi dan Misi Dakwah Bil Qolam” (2003), jurnalisme profetik merupakan bentuk jurnalisme ysng tidak hanya melaporkan berita dan masalah secara lengkap, jelas, jujur serta aktual tetapi juga melakukan prediksi serta petunjuk ke arah perubahan, transformasi, berdasarkan cita-cita etik dan profetik Islam. Ia menjadi jurnalisme yang secara sadar dan bertanggung jawab memuat kandungan nilia-nila dan cita Islam.

Bacaan Lainnya

Mengutip wartawan senior dan dosen jurnalistik Dhimam Abror Djuraid dalam artikelnya berjudul “Jurnalisme Profetik Husnun N. Djuraid,” (2019), membandingkan jurnalisme profetik dengan praktek jurnalisme di Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, di Amerika Serikat, wartawan menjalankan tugasnya untuk memenuhi hak masyarakat untuk tahu people’s right to know, sebagai bagian dari proses demokrasi. Wartawan AS (dan Eropa) menjalankan profesinya sebagai bagian dari pengamalan hak konstitusi, terutama First Amendment dalam konstitusi AS, yaitu memenuhi hak publik untuk mendapatkan kebebasan berekspresi dan memperoleh berita.

Jurnalis dan media di Barat merupakan bagian dari the fourth pillar of democracy, pilar keempat demokrasi dalam sistem Trias Politika Montesquieu untuk memastikan terjadinya check and balance antara tiga pilar: eksekutif, legislatif, dan judikatif. Media menjadi watch dog alias anjing penjaga untuk menggonggongi penyimpangan kekuasaan, abuse of power, dari tiga lembaga itu.

Dalam hal ini, tujuan jurnalisme Barat adalah profan, duniawi semata karena hanya didasari pandangan materialisme dan rasionalitas.

Praktek jurnalisme di AS dan Eropa tersebut sesuai dengan pernyataan Janet E. Steele, profesor jurnalistik dari George Washington University, dalam bukunya berjudul “Mediating Islam Jurnalisme Kosmopolitan di Negara_engara Muslim Asia Tenggara” (2018).

Janet E. Steele yang meraih gelar Ph.D dari Johns Hopkins University, menyimpulkan bahwa jurnalis Barat mempunyai tujuan yang profan, sedangkan jurnalis Indonesia dan Malaysia umumnya mempunyai tujuan transendental, ukhrawiah.

Menurut Steele, motivasi jurnalis AS yang paling utama adalah pemenuhan dan pelaksanaan hak-hak demokrasi. Sedangkan wartawan muslim di Indonesia dan Malaysia menemukan motivasinya untuk menjalankan peran utama sebagai umat terbaik ’’khairu ummat’’ dan menerapkan amar makruf nahi mungkar.

Apa yang disampaikan Hadi Prayogo dalam disertasinya dapat disimpulkan bahwa genre jurnalisme profetik adalah jawaban dari kegelisahan yang terjadi pada lingkup media massa saat ini di tengah gempuran gencar media sosial.

Wartawan kini menghadapi tantangan diantara maraknya berita hoaks dan fake news, yang tidak mendukung nation and character building justru lebih memilih memprovokasi publik menjadi individualistik, konsumtif dan agresif berujung pada konflik SARA (Suku Agama, Ras dan Antar golongan). ●

Pos terkait