Buku ini ditulis dengan gaya penulisannya layaknya sebuah reportase jurnalistik dan luput menuangkan momen-momen kecil dari sang tokoh, seperti pada masa-masa awalnya sebagai pengacara. Pada tahun 1993 saat menjadi pengacara di kota Lubuklinggau (sekitar 300 km dari Palembang), Anita Noeringhati adalah adalah advokat yang tampil stylish.
Tahun 1994 di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Anita Noeringhati sudah menggunakan mobile telephone bukan telepon sesuler (ponsel) seperti yang ada sekarang ini. Saat itu Anita menerima panggilan telepon yang dijawabnya dari gagang telepon tipe rumah model wireless. Jika sekarang sudah disebut kepo. Naluri jurnalisme saya mendorong untuk bertanya, “Ini telepon wireless, bagaimana bisa nyambung menerima panggilan?”

Ternyata telepon wireless yang tersambung melalui gelombang atau sinyal tersebut disambungkan melalui antene menjulang yang ada di rumah tersambung dengan pesawat telepon lalu, lalu mengirimkannya ke gagang untuk bicara dengan jarak tertentu. Jarak antara rumah Anita dan PN Lubuklinggau masih dalam area jangkauan telepon wireless tersebut.
Itu hanya momen-momen kecil dari lini masa tokoh bernama Anita Noeringhati. Mungkin dalam “Singa Betina Parlemen Bumi Sriwijaya” penulisan beranggapan momen-momen kecil tersebut tidak menarik. Dalam menulis biografi, riset adalah satu kaca kunci yang harus menjadi perhatian.
Dari lembar halaman biografi “Singa Betina Parlemen Bumi Sriwijaya” ada bagian yang sangat menarik pada halaman 10 yang berjudul “Menikah dan Menjadi Mualaf.” Mungkin tidak banyak masyarakat Sumsel yang tahu bahwa RA Anita Noeringhati adalah seorang mualaf. Kisah tentang perjalanannya menjadi mualaf memeluk agama Islam bisa dibaca pada bagian ini.
Menulis Biografi
Dalam menulis biografi, apakah biografi politik, intelektual, dan biografi jurnalistik maka riset menjadi bagian yang menentukan sehingga menjadikan biografi tersebut sangat menarik. Biografi disusun berdasarkan riset dan dilengkapi dengan hasil wawancara terhadap tokoh yang akan ditulis maupun orang lain yang menjadi rujukan. Dalam dunia jurnalistik, dikenal menulis profil seseorang sebagai bentuk lain dari biografi yang ditulis singkat dan tidak mendalam.
Buku “Singa Betina Parlemen Bumi Sriwijaya” dapat diklasifikasikan sebagai biografi politik. Menurut Safari Daud dalam “Antara Biografi Dan Historiografi (Studi 36 Buku Biografi di Indonesia)” (2013) dengan mengutip penelitian Gerry van Klinken, penulisan biografi di Indonesia dari tahun 1950 sampai tahun 2000 sebanyak 2.629 buku.
Mengutip Louis M. Smith dalam “Metode Biografis,” biografi merupakan riwayat hidup tokoh yang ditulis oleh orang lain baik tokoh tersebut masih hidup atau sudah meninggal. Kata biografi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “bios” yang artinya hidup, dan “graphien” yang berarti tulis.
Bahkan menurut Djadjat Sudradjat dalam “Menulis Biografi, Upaya “Penelanjangan”Diri” (2008), menulis biografi adalah semacam upaya “penelanjangan” diri: diri sendiri dan diri orang yang ditulis. Dan, seseorang yang bersedia menulis atau ditulis biografinya haruslah siap dengan penelanjangan itu.









