“Digawangi” Dua Doktor P3J PWI Sumsel “Sharing Session Goes To Fisip Unsri”

Maspril Aries wartawan dan penggiat Kaki Bukit Literasi dengan didampingi Ketua PWI SUmsel Firdaus Komar menyerahkan dua buku terbarunya kepada Wakil Dekan I Fisip Unsri Azhar pada “Sharing Session Goes to Campus” di jurusan Ilmu Komunikasi. (FOTO: Dok. Ilmu Komunikasi Fisip Unsri)

Pada kesempatan itu Wakil Dekan I Fisip Unsri menyampaikan, kerjasama yang sudah terjalin melalui kegiatan “Sharing Session Goes to Campus” bisa ditingkatkan lagi dalam nota kesepakatan kerjasama. “Kerjasama antara Fisip Unsri dengan PWI Sumsel yang yang kesepakatannya ditandatangani  pimpinan FISIP Unsri dengan PWI Sumsel,” ujarnya.

Menanggapi keinginan Fisip Unsri untuk menjalin ikatan kesepakatan dengan PWI Sumsel, Ketua PWI Sumsel Firdaus Komar mengatakan, “PWI siap untuk kerjasama tersebut. PWI ingin kerjasama ini juga bisa dikembangkan dengan kampus atau perguruan tinggi yang ada di Sumsel”.

Bacaan Lainnya

Sementara pada “Sharing Session Goes to Campus” di Fisip Unsri materi yang disampaikan kepada mahasiswa diantaranya, “Dasar-Dasar Jurnalistik & Kode Etik Jurnalistik” oleh Hadi Prayogo, “Pers Mahasiswa dan Konvergensi Media” oleh Maspril Aries dan “Menulis Berita Untuk Multimedia” oleh Muhamad Nasir.

Maspril Aries wartawan penerima Press Card Number One (PCNO) pada Hari Pers Nasional (HPN) 2023 di Medan menyampaikan materi tentang sejarah pers mahasiswa sejak era Orde Lama, Orde Baru dan pasca reformasi.

Menurut wartawan yang juga mantan aktivis pers mahasiswa dari Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Teknokra Universitas Lampung (Unila), “Saat ini ada angin segar dan kabar gembira bagi pers mahasiswa yang ada di perguruan tinggi. Kabar gembiranya, Dewan Pers dan telah bertemu dengan Prof Nizam Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Kemendikbudristek pada 16 Juni 2023”.

“Dari pertemuan tersebut, Dewan Pers diwakili Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Arif Zulkifli. Dirjen Dikti Nizam menyambut baik inisiatif Dewan Pers dalam pembentukan kesepahaman bersama antara Dewan Pers dengan Kemendikbudristek. untuk mencari titik temu solusi perlindungan bagi pers mahasiswa,” kata wartawan yang telah menulis dan menerbitkan 18 judul buku yang ditulis sendiri atau bersama-sama.

Maspril Aries menyampaikan, pers mahasiswa sendiri tetap hidup pada berbagai kampus perguruan tinggi. Seperti di Unsri ada Gelora Sriwijaya di Fisip Unsri ada pers mahasiswa Limas. Di Unila ada SKM Teknokra di Universitas Gajah Mada ada Balairung di Universitas Diponegoro ada Manunggal.

 “Pers mahasiswa sendiri sejarahnya sudah ada zaman kolonial Hindia Belanda. Ada Indische Vereeneging yang diterbitkan sekelompok mahasiswa pribumi yang sedang menempuh pendidikan di Belanda. Kemudian pada masa Orde Baru ada regulasi yang mengatur pers mahasiswa. Namun pasca reformasi setelah lahirnya UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers, pers mahasiswa seperti anak ayam kehilangan induknya,” kata wartawan pemegang kompetensi wartawan utama yang pernah bergabung dengan Harian Lampung Post dan Harian Republika. (mas)

 

 

Pos terkait