Tokoh-tokoh Pasca Nansuko
Pasca ditinggalkan Nansuko (Nanan-Sulaiman Kohar), tokoh-tokoh yang muncul, baik karena sudah terang-terangan menunjukkan syahwatnya untuk maju lewat baliho-baliho dan berbagai kegiatan yang marak – bahkan jauh sebelum musim caleg tiba atau mereka yang kerap dibahas dalam percakapan terbatas di kalangan politik atau juga media massa lokal, saya belum melihat satu orang pun yang menyala.
Tentu pendapat ini setelah menempatkan H Sulaiman Kohar, pasangan Nanan dua periode, di luar bursa. Tampaknya, di atas kertas, peluang bagi laki-laki yang tahun ini akan menginjak usia 68 tahun itu, berada di atas nama-nama yang baru akan all out setelah pemilihan legislatif nanti menunjukkan arahnya.
Enam tahun belakangan, entah bagaimana, saya dipertemukan dengan mereka yang memberi kode untuk maju ke bursa wali kota dan calon Wali Kota Lubuklinggau 2024–2029. Senang sekali, kesempatan-kesempatan itu memberi saya akses untuk mengenal mereka.
Ada yang tampil bossy, ada yang hanya ingin didengar, ada yang selalu menyalahkan kinerja pasangan terdahulu seakan-akan ia adalah orang yang paling pas memimpin, ada yang sibuk memberikan solusi agamis seakan-akan masyarakat kota ini berlumur dosa, dan lain sebagainya.

Kreativitas, Literasi, dan Budaya ke Laut Aja!
Tapi, ada poin menarik, hasil perbincangan santai saya dengan calon-calon tersebut.
Tidak satu pun yang bisa memberikan pandangan yang menarik ketika saya menawarkan literasi, kreativitas, dan budaya sebagai topik percakapan. Sebagian besar tidak menganggap dua bidang ini sebagai prioritas. Padahal, sebagian besar pemuda dan pemilih pemula, sangat dekat dengan ketiganya.
Bagaimana mereka melihat bakat-bakat muda Lubuklinggau agar bisa berkiprah di tingkat nasional atau bahkan internasional, mereka kagok. Apalagi ketika saya menawarkan literasi dan sastra sebagai bahan elaborasi. Mereka keteteran.
Pertama, sebagian mereka ternyata tidak suka membaca. Kedua, mereka tidak pernah sepenuhnya turun ke tengah masyarakat. Ketiga, adalah konsekuensi dari yang pertama dan kedua: mereka tidak pernah berpikir bahwa, di dunia yang transparan hari ini, kita seharusnya menjadi warga dunia, bukan lagi Indonesia, apalagi Lubuklinggau semata.










