Hotspot Sumsel Tembus 1.917 Titik, ISPU Palembang Bertahan di Level Berbahaya

KATANDA.ID, Palembang – Jumlah hotspot kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan, mengalami kenaikan 1.917 titik pada Senin 12 Oktober 2026.

Atas kenaikan hotspot tersebut, membuat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Palembang masih bertahan di kategori berbahaya dengan nilai 433.

Berdasarkan data pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sebanyak 1.917 titik hotspot terpantau di wilayah Sumsel dalam periode pemantauan 24 jam terakhir hingga Senin pagi.

Data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan titik panas di Sumsel masih mengalami fluktuasi di tengah upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus dilakukan.

Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan pemantauan titik panas terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan potensi karhutla di sejumlah wilayah.

Pemantauan ini menjadi bagian penting dalam mendukung upaya deteksi dini agar potensi kebakaran dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas di lapangan.

“Berdasarkan peta sebaran hotspot harian Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel yang diperbarui pada Senin (12/10/2026) pukul 05.00 WIB, total 1.917 titik panas tersebut terdiri dari 764 titik di lahan mineral dan 1.153 titik di lahan gambut,” kata Sudirman, Senin (12/10/2026).

Data tersebut juga menunjukkan sebaran titik panas di sejumlah kabupaten dan kota di Sumsel, sehingga penanganan karhutla perlu terus dilakukan melalui pemantauan dan patroli secara berkelanjutan.

Di sisi lain, upaya penanggulangan karhutla dilakukan melalui patroli darat dan pemadaman dini di daerah rawan kebakaran.

Kegiatan ini melibatkan pemerintah daerah, masyarakat, kepolisian, tim Manggala Agni, serta perusahaan yang beroperasi di wilayah rawan karhutla.

Sementara itu, patroli udara dan operasi pemadaman melalui water bombing juga menjadi bagian dari upaya penanganan karhutla di Sumsel, dengan pelaksanaannya menyesuaikan kondisi di lapangan.

Kenaikan jumlah hotspot ini menjadi perhatian karena menunjukkan potensi kebakaran masih perlu diwaspadai.

Pemantauan dan langkah pencegahan diharapkan terus diperkuat untuk menekan munculnya titik api serta mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. (*)

Pos terkait