Herman Deru: Jarak Pandang Membaik, Sekolah Kembali Terapkan Tatap Muka

KATANDA.ID, Palembang – Gubernur Sumatera Selatan Dr.H Herman Deru mengikuti dialog secara langsung (live) di Metro TV terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seusai Rapat Koordinasi (Rakor) Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) bersama kementerian terkait, Senin (19/10/2026).

Dalam dialog tersebut, Herman Deru memaparkan perkembangan terkini penanganan karhutla di Sumatera Selatan berdasarkan laporan per 18 Oktober 2026. Total luas lahan terdampak karhutla di Sumsel tercatat mencapai 355,29 hektare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 235 hektare telah ditangani melalui operasi darat, dengan total luas lahan yang berhasil dipadamkan mencapai 261,7 hektare. Sementara itu, masih terdapat 92,4 hektare lahan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

“Asap masih terdeteksi di sejumlah wilayah, tetapi jarak pandang berangsur membaik meskipun masih fluktuatif. Saat ini, jarak pandang berkisar 4.000 meter dan penerbangan sudah tidak mengalami penundaan (delay),” ujar Herman Deru.

Gubernur mengungkapkan bahwa sejak Kamis petang, Sumsel ditetapkan sebagai proyek percontohan (pilot project) penerapan teknologi dry ice atau es kering untuk mendukung penanganan karhutla. Penerapan teknologi tersebut dinilai memberikan dampak signifikan. Sebanyak 800 kilogram dry ice ditebarkan dalam dua kali pelaksanaan, dengan fokus penanganan di Kota Palembang dan sekitarnya.

“Efek nyata penggunaan dry ice sudah memulihkan aktivitas masyarakat. Hari ini, sekolah telah menerapkan pembelajaran tatap muka,” jelasnya.

Herman Deru juga menyampaikan arahan Menko Polkam agar stamina dan kesehatan personel yang bertugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan tetap dijaga. Jumlah personel yang dikerahkan mencapai 12.710 orang dengan sistem pergiliran tugas (shift). Selain itu, petugas kesehatan disiagakan di setiap posko untuk memastikan kondisi kesehatan personel tetap terpantau.

Tindak lanjut penanganan karhutla di lapangan juga telah dilakukan secara langsung oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang meninjau lokasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Terkait dampak negatif dry ice, para ahli yang lebih mengetahui,” pungkas Herman Deru.

Sementara itu, pakar karhutla Prof. Bambang Hero Suharjo mengingatkan agar potensi dampak negatif dari penerapan teknologi dry ice tetap menjadi perhatian dan dipertimbangkan secara matang. Ia juga menyarankan agar kesehatan dan keselamatan para personel yang bertugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan menjadi prioritas utama dalam seluruh proses penanganan karhutla. (*)

Pos terkait