KATANDA.ID, Palembang — Sastrawan dan penyair produktif asal Lampung Isbedy Stiawan ZS kembali meluncurkan buku kumpulan puisi terbarunya berjudul “Ketika Aku Pulang.”
Acara peluncuran buku kumpulan puisi Isbedy Stiawan kali ini agak berbeda, karena tidak diluncurkan di Bandarlampung melainkan di Palembang.

Peluncuran kali ini diprakarasai kumpulan penulis Satu Pena Sumatera Selatan (Sumsel) bekerjasama dengan BEM Fakultas Hukum Universitas IBA yang berlangsung di aula Universitas IBA, Senin (7/11). Selain peluncuran buku juga diisi dengan baca puisi dan bedah buku.
Isbedy mengaku merasa senang bisa kembali ke Palembang dan bertemu dengan teman-teman lama serta seniman dan penyair dari ibu kota Provinsi Sumatera Selatan.
“”Ada teman lama dari Bandarlampung yang hampir selama 20 tahun tidak jumpa Bung Maspril Aries yang dulu dari Bandarlampung hijrah ke Palembang. Ada Bung Anwar Putra Bayu penyair dan Ketua Satu Pena Sumsel, Bung Tarech Rasyid yang dulu saya kenali sebagai aktivis NGO dan berkesenian sekarang Rektor Universitas IBA, Bung Anto Narasoma, Ali Goik dan lainnya,” kata Isbedy yang menyempatkan membacakan satu puisi.
Walau pelaksanaan acara sempat tertunda, namun peluncuran buku kumpulan puisi tersebut tetap berlangsung semarak dan mendapat tepuk tangan riuh.

Pada pembacaan puisi, tampil penyair dan jurnalis Anto Narasoma, penyair dan seniman Vebri Al Lintani, Direktur/ Kepala UPBJJ Universitas Terbuka (UT) Palembang Meita Istianda, Fitri Angraini, mereka membacakan puisi karya Isbedy Stiawan dari buku “Ketika Aku Pulang,” dan pemusik Ali Goik. Juga hadir sutradara teater dan novelis Toton Dai Permana.
Sementara bedah buku menghadirkan Rektor Universitas IBA Tarech Rasyid yang dipandu Ketua Satu Pena Sumsel Anwar Putra Bayu. Menurut Tarech, dalam karya-karyanya “Ketika Aku Pulang” dirinya mencoba memaknai kepulangan dalam “bahasa Isbedy” dari suatu situasi ke situasi lain yang berbeda.
“Isbedy menulis dalam buku ini memaknai diksi ‘pulang’ sebagai kepergian dari suatu situasi ke situasi lain yang berbeda. Setiap manusia bisa sebagai aku yang berada di dunia itu meninggalkan jejak-jejak.Isbedy coba memaknai tempat kelahiran bernama Rawa Subur di Bandarlampung itu sebagai ruang. Dimana aku berada di ruang kekinian sekaligus masa lalu. Sebab masa lalu bisa dilihat ketika ia pulang,” kata doktor filsafat yang mengenyam pendidikan di Fakultas Filsafat UGM.
Menurutnya, pada usia telah berkepala enam, Isbedy merefleksi jejak-jejak masa lalunya, baik lingkungan maupun objek-objek lain sebagai kerinduan. “Dan itu didapati ketika ia pulang. Jadi puisi-puisi Isbedy dalam buku ini bisa dimaknai sebagai pulang yang punya makna substantif,” ujarnya.
Penanggap penyair JJ Polong menilai puisi-puisi Isbedy adalah sebuah realitas yang dihadapi penyair baik pengalaman batin maupun indrawi sudah bercampur.
“Kalau kita lihat Rawa Subur, itu tidak hanya sekadar lanskap atau sebuah dataran, hamparan dan lain sebagainya. Tetapi Rawa Subur sebagai realitas batin. Dalam konteks itu makna pulang adalah proses panjang dari kehidupan seorang Isbedy,” kata dosen dari Universitas Sriwijaya (Unsri). (maspril aries)










