“Public Speaking” Menjemput Etika Komunikasi

Public speaking pada pelatihan kehumasan dan jurnalisitik.(FOTO : Dinkominfo Muba)

Istilah public speaking berawal dari ahli retorika, yang mengartikan retorika ini merupakan seni (keahlian) berbicara atau berpidato yang sudah berkembang sejak abad sebelum masehi.

Menurut sejarahnya, kajian tentang public speaking telah ada sejak ratusan tahun sebelum Masehi di Yunani dengan nama “retorika”. Beberapa tokoh retorika lahir pada masa itu antara lain: Corax, Gorgias, Protagoras, Demosthenes, Isocrates, Socrates, Plato dan Aristoteles. Aristoteles adalah tokoh yang paling terkenal dengan bukunya yang berjudul “De Arte Rhetorica”.

Bacaan Lainnya

Public speaking atau berbicara di depan umum merupakan softskill yang harus dikuasai semua orang untuk menjalin komunikasi di muka umum. Di sisi lain, public speaking juga bagian dari keterampilan berbahasa seseorang.

Nofrion dalam “Public Speaking untuk Semua”  (2017) menyebutkan kesantunan berbahasa ini dengan istilah kesantunan berkomunikasi yang mengacu kepada:  1. Pilihan kata 2. Kualitas bertutur kata 3.  Cara bertutur kata, serta 4. Cara memperlakukan mitra tutur.

Jika seseorang mampu memilih kata yang tepat (fit to audiences), dengan kualitas tutur yang baik (berkaitan dengan nada, penekanan, volume suara dan lain-lain), bertutur dengan cara yang sesuai seperti penggunaan komunikasi non verbal/gerakan anggota tubuh yang relevan serta mampu menempatkan komunikan sebagai mitra bukan bawahan maka seseorang tersebut bisa dikatakan sudah memiliki kesantunan dalam berkomunikasi.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menciptakan kesantunan dalam berkomunikasi.

  1. Apa yang harus dikatakan kepada lawan tutur pada waktu dan keadaan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat. Perhatikan kepada siapa kita berbicara dan sedang dimana.
  2. Ragam bahasa yang paling wajar digunakan dalam waktu dan budaya tertentu.
  3. Kapan dan bagaimana kita menggunakan giliran berbicara dan menyela atau menginterupsi pembicaraan orang lain.
  4. Kapan harus diam dan mendengarkan tuturan orang lain.
  5. Bagaimana kualitas suara dan sikap fisik saat berbicara.

Setelah mengikut kursus atau pelatihan public speaking, bagi peserta apa manfaat diperoleh?  Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan meningkatkan keterampilan komunikasi dari public speaking ini  antara lain: 1. Meningkatkan kredibilitas. 2. Meningkatkan skill leadership. 3. Mudah dalam menyampaikan ide dan gagasan. 4. Menjangkau networking lebih luas, dan 5. Meningkatkan karier.

Etika Komunikasi

Keterampilan public speaking menurut Rini Setyowati, Yudianto Achmad, dan Djoko Nugroho dalam “Pelatihan Public Speaking Islami pada Ketua Dasawisma Dusun Watukudi”   (2023), sangat diperlukan untuk menunjang personality diri untuk masa depan yang lebih baik. Ketika seseorang dapat menempatkan diri dengan baik, berbicara dengan adab dan etika yang baik, dan menyampaikan gagasan dengan penuh percaya diri maka akan membuat orang lain percaya pada kredibilitas yang dimiliki orang tersebut.

Dalam public speaking seseorang yang berbicara harus tahu dan memahami etika komunikasi. Menurut W Krisnawati dalam “Pelatihan Etika Komunikasi dan Public Speaking untuk Para Perangkat Desa Pucung Balongpanggang Gresik” (2020), etika komunikasi yaitu suatu proses dalam menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan dengan mempunyai maksud dan makna. Atau etika komunikasi dapat diartikan sebagai norma, nilai, atau ukuran tingkah laku baik dalam kegiatan komunikasi dalam suatu masyarakat.

Sebelum membahas lebih jauh tentang etika komunikasi, saatnya mengenal dan mengetahui sedikit apa itu etika? Etika merupakan suatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam berkomunikasi. Etika mengatur bagaimana manusia berperilaku. Etika merupakan suatu penilaian manusia terhadap perilaku, apakah perilaku tersebut dipandang baik, buruk, salah dan benar.

Etika berasal dari kata “ethicus” yang dalam bahasa Yunani disebut dengan ethicos, yang berarti kebiasaan norma-norma, nilai nilai, kaidah-kaidah dan ukuran – ukuran yang baik dan yang buruk. Etika dibagi menjadi dua yaitu etika perangai dan etika moral.

Pos terkait