Bagaimana sebuah berita dapat dikatakan baik? Farid Gaban mantan wartawan Tempo dan Republika menjawab, “Berita yang baik dan efektif tak ubahnya seperti burung camar menari di sebuah teluk. Ekonomis dalam gerak. Tangkas dengan kejutan. Simple tapi elok. Atau berita yang baik punya dua aspek : BERDAGING : berisi informasi menarik, baru,penting, terfokus dan jelas. BERJIWA : punya wajah dan suara.
5 W + 1 H & Piramida Terbalik
Berita/ informasi dicari/dikumpulkan oleh orang yang disebut wartawan, jurnalis atau reporter. Seorang wartawan Perancis terkemuka Jean Louis Servan Schreiber dalam bukunya “The Power to Inform” melukiskan tentang cara seorang reporter mengumpulkan berita, yang kebetulan ditugaskan melaporkan penemuan sebuah sumber minyak baru di sebuah daerah Perancis. Reporter itu pergi ke departemen pertambangan, pergi ke perusahaan minyak dan akhirnya pergi ke tempat sumber minyak tersebut. Berita ditulis lalu diserahkan kepada desk ekonomi, ditulis kembali dan akhirnya dimuat dalam surat kabar.
Tugas pokok seorang seorang wartawan, jurnalis atau reporter adalah mengumpulkan fakta kepada publik (pembaca/audiens) berbagai bahan informasi. Dalam masyarakat yang terbuka dan maju, rangsangan rasa ingin tahu cukup tinggi. Media massa (surat kabar, majalah. Radio, televisi dan media online) lahir karena termotivasi untuk menjawab rasa ingin tahu masyarakat tersebut.
Untuk menjawab rasa ingin tahu tersebut, kehadiran wartawan/jurnalis dibutuhkan. Wartawan hadir untuk memperpendek jarak bahkan nyaris meniadakan jarak tersebut. Wartawan juga bertugas melipat waktu menjadi sangat berhimpit. Wartawan menyediakan diri membantu manusia lain yang tidak mampu mendapatkan informasi seorang diri. Wartawan adalah penembus akses bagi mereka yang terhalang.
Seseorang wartawan/jurnalis/reporter mutlak memiliki keterampilan dan pengetahuan umum. Seseorang wartawan/jurnalis/reporter harus peka terhadap keadaan di sekelilingnya. Sebuah informasi yang diterimanya harus segera dikejar dari mana sumbernya dan dicek kebenarannya. Gerakan dan tindakannya harus cepat. Data/informasi yang dikumpulkan sebanyak mungkin. Setiap berita yang akan dibuat harus padat dan berisi fakta
Kebanyakan wartawan/jurnalis/reporter pemula yang belum berpengalaman membuat berita sepintas lalu. Beritanya pendek dan tidak lengkap. Pembaca atau masyarakat awam yang membacanya akan bertanya-tanya, karena tidak mengerti apa yang ditulis sang wartawan/jurnalis/reporter tersebut.
Pada umumnya, wartawan juga harus memiliki sikap sikap dan motivasi kerja. Sikap dasar yang pertama bagi wartawan ialah rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi terhadap informasi. Rasa ingin tahu akan selalu mendorong wartawan untuk menggali informasi yang ingin diberitakan. Sikap dasar berikutnya adalah menggali informasi yang seluas-luasnya terhadap kasus yang diberitakan.
Setelah memiliki sikap dasar tersebut. untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik, mudah dan cepat, seorang wartawan, jurnalis atau reporter diberi panduan atau pegangan. Diantaranya yang dasar dan sangat terkenal adalah penulisan berita dengan teori 5 W dan 1 H. Berita dianggap secara elementer lengkap apabila di dalamnya terdapat : what, who, when, where, why dan how (5 W dan 1 H). (Jakob Oetama, Reportase Komprehensif).
5 W dan 1 H adalah bagian dari kaidah jurnalistik dalam penulisan berita. 5 W dan 1 H adalah enam unsur yang harus ada dalam berita. Dari sebuah peristiwa yang mengandung nilai berita (news value) lalu direkonstruksi dalam rangkaian kata atau kalimat yang meliputi unsur :
WHAT : apa yang terjadi – WHO: siapa yang terlibat dalam kejadian, siapa aktornya, siapa saja yang terlibat. WHEN: kapan kejadiannya, waktu kejadiannya. WHERE: di mana terjadi, lokasi atau tempat peristiwa. WHY: mengapa terjadi, apa penyebabnya. HOW: bagaimana proses kejadiannya. Suasana peristiwa, atau urutan kejadiannya (kronologi).
Sebelum memulai keterampilan menulis berita seorang wartawan atau jurnalis harus tahu sumber berita. Menurut Luwi Ishwara, “Detak jantung dari jurnalisme terletak pada sumber berita”. Menjadi wartawan berarti mengembangkan sumber. Wartawan harus tahu banyak. Dia harus tahu ke mana mencari informasi, siapa yang harus ditanya?
“Belajar menulis berita bagi wartawan pemula memang membingungkan karena mereka harus mengikuti aturan penulisan cerita yang bertentangan dengan apa yang mereka pelajari di sekolah. Mereka diminta bercerita dengan urutan informasi yang terbalik dari metode tradisional. Mereka diminta membuat kata dan kalimat yang pendek, menulis dengan kata kerja, paragraf yang berbeda dari yang pernah mereka pelajari dan banyak lagi.” (Luwi Ishwara, “Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar”).










