Pers Mahasiswa Era Konvergensi Media

Buku-buku yang mendokumentasikan Pers Mahasiswa Indonesia. (FOTO : Maspril Aries)

Seiring perkembangan teknologi komunikasi informasi, diantaranya dengan kehadiran internet yang perkembangannya sangat pesat dan menciptakan paradigrma baru dunia media massa. Sebagian komunitas media massa, pers mahasiswa pasti terkena imbasnya. Pada saat itu ada banyak pers mahasiswa edisi cetak ditampilkan dalam media online sebagai bukti aktivis pers mahasiswa sangat cepat mengantisipasi perkembangan teknologi internet.

Pada awal tahun 2000-an media online versi mahasiswa sudah ada. Beberapa lembaga pers mahasiswa mulai memiliki situs web yang diisi oleh materi edisi cetak. Apa yang dilakukan pers mahasiswa saat itu sudah mulai menjajaki dan memasuki satu era yang bernama konvergensi media.

Bacaan Lainnya

Namun sayang menurut Didik Supriyanto, aktivis pers mahasiswa saat itu hanya memanfaatkan daya jangkau internet saja melalui media online, belum lagi memanfaatkan ketapatan dan kecepatan laju informasi. Kecepatan dan kesigapan pers mahasiswa saat itu belumlah cukup. Tanpa ketepatan, maka penggunaan teknologi internet akan sia-sia. Internet sebagai sarana media informasi, memiliki dua kelebihan, yaitu kecepatan dan daya jangkau.

Konvergensi Media

Seiring perkembangan teknologi komunikasi terus tumbuh dan berkembang pesat, berpengaruh pada industri pers di dunia termasuk di Indonesia. Pengaruh itu sangat terasa pada media cetak baik koran atau surat kabar, majalah, tabloid dan produk pers lainnya yang menggunakan bahan baku kertas.

Di Indonesia sudah banyak media cetak yang tutup atau tidak terbit lagi. Masa tersebut disebut senja kala media, tutup atau mengakhiri terbitnya karena tidak mampu bersaing dengan media digital lainnya. Untuk menjaga eksistensi media massa tetap ada, perusahaan atau pengelola perusahaan pers khususnya media cetak melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan eksistensi medianya dengan melakukan konvergensi, dan menyiapkan media berbasis digital. Salah satu contohnya, Harian Republika yang menutup edisi cetaknya pada 31 Desember 2022 kemudian mengelola media online secara lebih serius.

Banyaknya media cetak mengakhiri usia terbitnya lalu menempuh model konvergensi konten dan tampil di berbagai platform sosial dengan tujuan mempertahakan eksistensi keberadaannya.

Kata “konvergensi” sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu convergence. Kata konvergensi merujuk pada dua hal/benda atau lebih bertemu dan bersatu dalam suatu titik. Itu artinya konvergensi merupakan pertemuan antara dua hal atau lebih dalam satu bentuk atau wadah.

Menurut G Burton dalam “Media dan Society” (2005), konvergensi media dapat diakatakan sebagai menyatunya jenis dan layanan yang diberikan media massa terhadap khalayak media yang selama ini saling berbeda dan saling terpisahkan. Banyak penelitian menyatakan konvergensi media adalah salah bentuk konkret kemajuan teknologi di industri media massa.

Jika merujuk pada pengertian kata “konvergensi media”, sebenarnya hal tersebut merujuk pada adanya penggabungan atau bertemunya dua atau lebih jenis media massa yang selama ini berbeda dan saling terpisah menjadi satu media yang terintegrasi.

Pada era sebelumnya kita mengenal media massa dibedakan atas media cetak, media elektronik, dan media online yang saling berbeda dan punya riwayat perjalanannya masing-masing. Kini perbedaan di antara masing-masing jenis media massa tersebut mulai hilang dan mengarah pada kesatuan media massa atau memasuki era konvergensi media.

Konvergensi media menurut wartawan senior Marah Sakti Siregar dalam “Menyambut Tantangan Konvergensi Media dalam Meningkatkan Mutu Jurnalistik Indonesia” (2018), adalah perkembangan gerak media setelah meruyaknya pemakaian internet di Indonesia. Pelan-pelan media massa cetak tergeser oleh media baru berbasis internet.

Konvergensi media sudah menjadi salah satu rumusan yang diakui para pakar dan praktisi media sebagai solusi menghindari berakhirnya eksistensi media cetak. Tanpa langkah penggabungan (fusi) media kiranya media cetak tidak akan bisa eksis seperti sebelumnya. Media berbasis cetak, elektronika dan internet harus dikoordinasikan dan dipadukan dalam suatu aktivitas konvergensi media.

Wujud media baru buah dari konvergensi media adalah gabungan dari media cetak, e-paper, media penyiaran, radio dan televisi streaming, media siber, semua di bagian produksi dan redaksi. Selain produk komersial e-commerce, bisa dalam bentuk penjualan on line pelbagai produk yang dilakukan oleh departemen bisnis atau usaha sebuah media. Varian platform penyampaian informasi buat publik dilakukan lebih beragam oleh media.

Konvergensi media mengarah pada pemanfaatan optimal kemajuan teknologi informasi (digitalisasi) di industri media. Proses komunikasi menjadi multimedia dan multi platform.

Tumbuh dan berkembangnya pers mahasiswa di Indonesia juga tidak terlepas dari turbulensinya pers umum, perubahan dan dinamika politik yang disertai dengan perubahan pada teknologi komunikasi dan informasi.

Pada beberapa pers mahasiswa yang ada di dalam kampus di Indonesia juga kini melakukan konvergensi media untuk produk jurnalistik. Pers mahasiswa edisi cetak seperti majalah dan surat kabar atau tabloid masih ada. Pada saat bersamaan mereka juga masuk dan mengembangkan media online dengan berbagai platform-nya seperti yang dilakukan pers umum baik nasional maupun yang ada di daerah.

Ketika pers mahasiswa hadir dengan multi platform atau multimedia, selain aspek atau bidang redaksional yang berbenah maka manajemen pers mahasiswa juga harus ikut menata diri mengikuti perubahan yang tengah terjadi

Menurut anggota Dewan Pers Asmono Wikan, ada enam tantangan pers mahasiswa saat ini, yaitu masalah organisasi, personalia, manajemen, pasar, kreativitas, dan digitalisasi. “Salah satu kelemahan pers mahasiswa adalah di bidang manajemen”, katanya.

Pada era digital, Dewan Pers mendorong pers mahasiswa untuk mendayagunakan platform digital yang tersedia seperti web dan media sosial. “Pers mahasiswa juga dapat meliterasi gaya hidup digital di kalangan mahasiswa, serta menjadi “clearing house” informasi-informasi yang tidak akurat, hoax, dan fake news”, ujar Asmono.

Harus diingat oleh aktivis pers mahasiswa dan pimpinan perguruan tinggi pada bidang kemahasiswaan bahwa konvergensi media tidak hanya mengubah basis data dan medium yang menyalurkannya, tetapi juga secara keseluruhan mengubah proses produksi, pengolahan, dan distribusi informasi sehingga media-media seperti koran, radio, televisi, dan lain-lain akan berubah dengan bentuk-bentuk media baru yang sepenuhnya digital, seperti world wide web, dan internet.

Kehadiran era konvergensi media, pada era milenial dan digital, pers mahasiswa tidak hanya sekedar penyampai informasi terkini di lingkungan kampus. Pers mahasiswa atau aktivis pers mahasiswa bisa menjadi contoh insan pers yang menjunjung tinggi etika jurnalistik yang selaras dengan peran mahasiswa sebagai agen perubahan.

Mengutip Wakil Ketua Dewan Pers M Agung Dharmajaya yang membahasa tentang “Kemerdekaan Pers, Jurnalisme Warga, dan Peran Media Sosial” pada acara yang digelar Dewan Pers berkolaborasi dengan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) mengatakan, “Mahasiswa harus jadi contoh civil journalism yang sesuai dengan kode etik jurnalistik untuk masyarakat luas. Dimulai dari lingkungan kampus dulu. Jangan asal membuat berita untuk memenuhi kebutuhan penulisan di media kampus semata”.

Mahasiswa adalah agen perubahan bagi masyarakat dan pers mahasiswa mesti mengambil peran untuk menjadi contoh civil journalism yang tetap berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. Pemberitaan yang dilahirkan dari media pers kampus oleh pers mahasiswa wajib melalui proses identifikasi dan verifikasi terlebih dahulu sebelum diterbitkan. Ini untuk menghindari terbitnya pemberitaan yang palsu atau berita hoaks dalam lingkup kampus.

Seperti layaknya pers umum maka pers mahasiswa harus memperhatikan etika dalam dunia jurnalisme kampus. Asmono Wikan mengingatkan, bahwa etika dalam dunia jurnalisme lebih penting dari pada sekadar menghasilkan karya jurnalistik semata. Keberimbangan informasi dibutuhkan untuk mencapai kebenaran dalam kacamata jurnalistik.

“Dalam dunia jurnalistik, etika sangat diperlukan dan dijunjung tinggi. Tugas insan pers bukan hanya menghasilkan karya jurnalistik saja, namun juga mencapai kebenaran jurnalistik, kebenaran yang datang dari dua arah. Kebenaran hanya bisa dicapai apabila etika dalam penulisan karya jurnalistik dijunjung tinggi”, pesannya.

Bagi pihak kampus atau perguruan tinggi perlu memberi porsi perhatiannya, bahwa dengan kehadiran pers mahasiswa yang kritis,  pimpinan perguruan tinggi tidak perlu alergi terhadap pemberitaan yang diterbitkan oleh pers mahasiswa, selama berita tersebut mengikuti kode etik jurnalistik. Setiap orang berhak untuk melakukan aktivitas jurnalisme dan menjadi jurnalis, termasuk mahasiswa dalam wadah pers mahasiswa menjadi aktivis pers mahasiswa atau jurnalis. ●

 

 

 

Pos terkait