Berita Siaran Pers Era Milenial Bak Seragam Anak Sekolah

(FOTO : Dok. Maspril Aries)

Dari penelitian Sumartono dalam “Karakteristik Isi Siaran Pers Pemerintah Kota Depok” (2016) menemukan ada fenomena yang berkembang, bahwa  wartawan atau jurnalis lebih suka press release yang sudah dalam bentuk ready to publish oleh institusi media. Atau siaran pers/ press release yang dikirim sudah ditulis dalam format berita atau feature sehingga ketika dikirim ke media massa maka editor atau redaktus tidak perlu melakukan editing.

Fenomena tersebut memang di satu sisi memberikan kemudahan bagi wartawan atau redaktur untuk mengunggah siaran pers menjadi berita. Di sisi lain, itu menjadi potret kemalasan jurnalis untuk melakukan sentuhan atau perbaikan sesuai kaidah jurnalistik dan sesuai kebijakan redaksi media massa tersebut, sehingga publik mendapat informasi yang mencerdaskan, bukan membaca berita yang seragam.

Bacaan Lainnya

Mengutip Tempo Institute, kepada praktisi humas atau PR perlu diingatkan bahwa sekurangnya ada sembilan hal yang harus dan jangan dilakukan ketika menulis siaran pers.

  1. Eye catcher

Buatlah judul sebagai eye-catcher. Judul berita harus menarik perhatian wartawan, membuatnya ingin tahu lebih banyak.

  1. Lead memikat

Kalimat atau paragraf pertama (lead) harus mampu memikat pembaca. Tulislah secara ringkas dan padat apa yang sedang terjadi.

  1. 5W + 1H

Menjelaskan informasi 5W + 1H secara jernih: siapa (who), apa (what), kapan (when), di mana (where), mengapa (why), dan bagaimana (how). Tujuannya agar pembaca memahami konteks yang sedang disampaikan perusahaan.

  1. Narahubung

Tulislah secara lengkap nama, jabatan, email, dan nomor telepon. Informasi ini akan memudahkan wartawan untuk meminta konfirmasi, bahkan mendalami siaran pers yang diperolehnya.

  1. ###

Letakkan tanda “###” sebagai penutup siaran pers. Tanda tiga pagar yang diletakkan di bagian tengah pada akhir tulisan lazim digunakan dalam jurnalistik.

Kemudian jangan lakukan :

  1. Jangan gunakan kata-kata yang sia-sia

Hindari kalimat dan paragraf yang panjang-panjang. Hindari pula pengulangan dan jargon atau istilah yang hanya dimengerti oleh kalangan terbatas.

  1. Jangan blast

Jangan mem-blast siaran pers yang sama ke semua media. Susun siaran pers untuk media spesifik, bahkan reporter yang spesifik meliput bidang Anda. Info tentang hal ini bisa dicari di website masing-masing media.

  1. Jangan kirim hasil scan

Jangan memindai (scan) siaran pers dan mengirimnya dengan format jpeg. Itu membuang-buang waktu redaktur. Masukkan siaran pers ke dalam tubuh email, bukan sebagai lampiran. Jika terpaksa memakai lampiran, gunakan berkas plain text atau Rich Text Format. Dokumen Word boleh, tapi simpanlah dalam doc.

  1. Jangan lelah belajar

Menjadi praktisi humas yang mahir merupakan keuntungan yang tak ternilai. ©

Pos terkait